finnews.id – Baru-baru ini, media sosial ramai memperbincangkan sebuah momen menarik ketika seorang pria berhasil menukarkan uang kertas yang hangus terbakar di Bank Indonesia (BI). Peristiwa ini sontak menyita perhatian publik luas. Banyak masyarakat awam yang sebelumnya mengira bahwa uang tunai yang sudah mengalami kerusakan parah, seperti robek, luntur, atau bahkan sebagian hangus terbakar, otomatis kehilangan nilai tukarnya dan tidak laku lagi di pasaran.
Kenyataannya, Bank Indonesia memiliki kebijakan khusus untuk menangani persoalan ini. Otoritas moneter tertinggi di Tanah Air tersebut terus berkomitmen menjalankan program uang layak edar bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui program ini, Bank Indonesia secara aktif melayani masyarakat yang ingin menukarkan uang Rupiah cacat atau rusak agar mereka kembali mendapatkan uang tunai yang bersih dengan nominal utuh.
Tentu saja, Anda tidak bisa sembarangan menukarkan uang yang kerusakannya sudah sangat ekstrem tanpa prosedur. Bank Indonesia menetapkan sejumlah parameter dan syarat fisik yang cukup ketat. Petugas bank wajib memastikan keaslian uang tersebut terlebih dahulu sebelum mereka menyetujui proses pergantian agar terhindar dari tindak kejahatan pemalsuan.
Lalu, apa saja syarat fisik uang kertas rusak yang Bank Indonesia terima? Bank Indonesia menetapkan aturan bahwa masyarakat berhak mendapatkan penggantian uang rusak dengan nilai nominal yang sama persis jika uang tersebut memenuhi seluruh indikator berikut ini.
Pertama, fisik uang Rupiah kertas harus memiliki ukuran yang lebih besar dari dua pertiga (2/3) ukuran aslinya. Artinya, bagian uang yang hilang karena insiden terbakar, sobek, atau dimakan rayap tidak boleh melebihi sepertiga dari total luasan uang tersebut. Apabila fisik uang menyusut hingga sama dengan atau kurang dari dua pertiga ukuran aslinya, maka Bank Indonesia secara tegas menolak memberikan penggantian.
Kedua, petugas bank masih dapat mengenali ciri-ciri keaslian uang Rupiah tersebut secara visual maupun menggunakan alat bantu. Elemen pengaman utama seperti benang pengaman, tanda air (watermark), tekstur kertas, atau tinta berubah warna idealnya masih bisa petugas identifikasi dengan jelas.