Liáng – βιολί ζήτα

Bapak Kujang Amburadul, “seseorang” yang iseng ?? Perusuh iseng….. ya Liáng….. Tapi, Liáng itu putra Ema nu pang bageurna sadunya, suatu hil yang mustahal melakukan yang kayak gitu…..

Juve Zhang Palsu

Hari ini nampaknya dari komentar yang ada di CHDI tak ada lagi keluhan dari Om JZ tentang urun rembuknya AI yang sehari kemarin cukup membuat heboh. Entah karena emang AI-nya sedang WFH (work from hutan) atau dia lagi malas nggacor. Saya iseng mencoba login dengan salah satu akun email ngasal saya, yang identitasnya saya ganti dengan nama Om JZ (palsu). Dan tadaaa… ternyata benar, kemungkinan yang mengacaukan komentarnya Om JZ adalah “seseorang” yang iseng. Entah siapa, mengubah (mengedit?) isi komentar seolah dari AI. “Ini login komentar yang tidak serius ya, hanya untuk ngecek saja, dan tentu tidak akan saya teruskan, karena berpotensi melanggar UU-ITE”. Jadi kalau ada kasus atau komen dengan nama akun seperti ini di CHDI bisa saya pastikan bukan dari saya. Lalu kalau ada yang tanya, buat apa bikin akun google banyak2? Sebetulnya khas orang kita di negeri ini. Saya hanya memanfaatkan google yang memberikan penyimpanan gratis “cloud” sebesar 15GB per akun. Tujuannya untuk backup foto2, video2 yang kian banyak. Dari sana saya share ke keluarga atau teman sesuai isinya, biar mereka pilih sesuai yg diperlukan. Itu saja sih (sementara ini). Maaf untuk Om JZ. Tabik. (Kujang A)

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

DUA KAMPUNG, DUA CARA MEMANUSIAKAN KOTA.. Di Jakarta, era Ali Sadikin melahirkan Proyek MHT. Nama lengkapnya Mohammad Husni Thamrin. Sasarannya jelas. Kampung kota yang kumuh. Jalan diperbaiki. Drainase dibenahi. Air bersih masuk. Bukan menggusur, tapi memperbaiki. Penduduk tetap tinggal. Kota tidak kehilangan jiwa. Di Surabaya, muncul KIP. Kampung Improvement Program. Digagas Johan Silas. Pendekatannya mirip, tapi lebih “ngerti kampung”. Warga diajak ikut. Gang diperlebar. Sanitasi dibangun. Lingkungan ditata. Tapi ritme sosial tidak diusik. Orang tetap bisa cangkruan. Keduanya lahir dari zaman yang sama. Saat negara belum kaya. Tapi imajinasi pemimpinnya besar. Mereka tidak bicara apartemen tinggi. Mereka bicara tanah, air, dan manusia. Hasilnya terasa. Kampung tidak lagi identik dengan kumuh. Ia jadi ruang hidup yang layak. Bahkan membentuk karakter kota. Kini pendekatan itu makin jarang. Standar makin seragam. Tapi rasa sering hilang. Padahal kota, pada akhirnya, bukan soal bangunan. Tapi soal bagaimana manusia tetap merasa punya tempat.