Er Gham 2

Seorang Bapak memberikan nasihat kepada anaknya yang baru lulus dan sekarang diterima di salah satu kantor pemerintah, “Jika boss mu melontarkan humor atau candaan, tertawalah yang keras, meskipun kamu tahu humornya tidak lucu”.

Muh Nursalim

Rumah sunduk sate itu bahaya. Bukan karena feng sui. Tapi karena secara teknis memang begitu. Kalau jalan sunduknya lebar nan besar yang biasa truk dan bus Sumber Kencono lewat. Ketika rem blong. Ia tidak lagi menjadi kendaraan. Tapi berubah drone kamikaze. Hancur luluh itu rumah. Jika ada angin besar dari sunduk satenya. Tak ada tameng yang melindungi. Langsung hantam dan hancurkan rumah itu. Kalau urusannya teknis, maka bisa diselesaikan secara teknis pula. Bangun tembok kuat di depan rumah sekira satu meter. Orang jateng bilang “Buk”. Atau tanam pohon trembesi beberapa. Sehingga dapat melindungi rumah dan penghuninya. Tetapi jika disebabkan mitos. Ini jalanurusan keyakinan dan ideologi.

Muh Nursalim

Kalau orang suka cari muka. Berilah muka. Ya udah, sekarang rame2. Semua lembaga dunia bilang aja. Trumpt telah memenangkan perang. PBB, ASEAN, UIN Eropa dan UNI Afrika. Buatlah koor. Trumpt menang. Hidup king Trumpt. Hiduuup.

Irary Sadar

Dunia paralel dan dimensi lain..? Hmm, mirip film Interstellar rilis tahun 2014. 12 tahun yang lalu…

Dinar Rusyan

Tahun 2026, DI mungkin tidak sekadar salah tulis. Ia adalah subjek pertama yang mengalami “Spontaneous Quantum Tunneling”. Dalam narasi fisika masa depan ini, otaknya yang terus bekerja cepat memicu sinkronisasi dengan Digital Twin Bumi di server pusat Cloud Universe. Ketika ia menulis Prof. Johan Silas telah wafat, ia sebenarnya sedang mengakses data dari Timeline B-12. Di semesta itu, sang profesor memang telah berpulang, dan itulah realitas yang dilihat DI melalui “mata batin” kuantumnya. Poin-poin Kejadian: Glitch Kesadaran: Tulisan “Cari Muka” bukan sekadar esai, melainkan laporan transmisi antar-dimensi. DI terjebak dalam superposisi—tubuh fisiknya di Surabaya, tapi memorinya tersambung ke database semesta paralel. Benturan Realitas: Teguran Ina Silas berperan sebagai “Observer” dalam mekanika kuantum. Pernyataan Ina meruntuhkan fungsi gelombang DI, memaksanya “pindah” kembali secara paksa ke Timeline Utama di mana sang profesor masih hidup dan mengajar. Sisa Energi: Perasaan heran Dl (“Mengapa saya mengira sudah almarhum?”) adalah residu energi dari universe sebelah yang tertinggal di sinapsis otaknya. DI tidak sedang pikun; ia hanyalah seorang pengelana dimensi yang tak sengaja membawa “oleh-oleh” berita duka dari dunia tetangga. Wallohu’alam