Irary Sadar

Tapi tidak untuk warga tempatan di Rempang dan Galang, Pulau Batam. Warga digantikan dengan rumah beton seragam, ditengah pulau. Yang biasanya bertani kebun , kini bingung caranya bertani di perumahan. Yang biasanya nelayan menangkap ikan dilaut, kini bingung menambatkan perahunya di samping rumah yang tidak berair. Senyata-nyatanya, masih ada ‘pengusiran’ penduduk tempatan laksana zaman kolonial Belanda dahulu. Suka tidak suka, ini nyata adanya…

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

JOHAN SILAS, DAN YB MANGUNWIJAYA.. Di Surabaya, Johan Silas bekerja seperti dokter kampung. Ia tidak menggusur. Ia menyembuhkan. Lewat KIP, gang diperbaiki, drainase dirapikan, rumah ditata tanpa mengubah jiwa penghuninya. Ia tahu: orang miskin tidak butuh dipindah, tapi diperlakukan layak. Bahkan rusun buatannya pun “berbau kampung”. Koridor lebar. Orang bisa duduk. Ngobrol. Hidup tidak dipaksa jadi asing. Di Yogya, YB Mangunwijaya melakukan hal serupa, tapi dengan rasa sastra. Kali Code yang kumuh tidak ia hapus. Ia rawat. Ia ajak warganya percaya diri. Rumah-rumah ditata warna-warni. Sederhana, tapi bermartabat. Ia bukan hanya merancang bangunan. Ia membangun harga diri. Johan itu teknokrat yang halus. Sistematis. Berpikir seperti insinyur, tapi hatinya ikut bekerja. Mangun itu romo yang nyeni. Bicara seperti pujangga, tapi kakinya turun ke lumpur. Surabaya dapat solusi. Yogya dapat jiwa. Keduanya memberi pelajaran yang sama: kota bukan soal beton. Tapi soal manusia yang tidak boleh kehilangan tempat pulang. Hari ini kita pandai membangun kota. Tapi sering lupa membangun rasa.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Tulisan salah terkait Prof Johan Silas ini sebenarnya sepele. Bukan sepele efeknya, tapi sepele asal-usulnya. Info (salah) itu hanya sebagai “bumbu” tulisan Abah terkait Hotel Serena Islamabad. Maksud hati memuji Prof Johan sebagai arsitek Indonesia yang berprestasi di ajang internasional, tapi alam bawah sadar Abah menyatakan Prof Johan sudah meninggal. Makanya Abah hari ini menulis, “Saya sendiri heran: mengapa mengira Prof Johan Silas sudah almarhum.” Memang aneh Abah ini, padahal nggak pernah punya ingatan melayat ke Prof Johan, kok bisa menganggap sudah meninggal. Tidak menyangka, salah “bumbu” bisa merusak semua “masakan”. Itu seperti soto ayam yang sudah enak, malah dikasih topping selai cokelat. Sotonya buyar. Makanya, ada baiknya Abah sowan ke rumahnya Prof Johan untuk meminta maaf secara langsung sambil kangen-kangenan. Dan akan lebih baik kalau mengajak saya, Bah… Wkkkk….