Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

CARI MUKA? DAPAT APA? Kalimat itu sederhana. Tapi nakal. “Bukan orang Tionghoa” di situ bukan soal etnis. Itu gaya bahasa. Semacam jalan pintas untuk menyebut filosofi lama: menjaga muka, memberi muka, menyelamatkan muka. Dalam budaya Tionghoa, “muka” itu aset. Bisa lebih mahal dari uang. Dahlan memelintirnya. Ia tidak sedang bicara identitas. Ia sedang bermain metafora. Obama dijadikan kontras. Trump dijadikan objek. Lalu “muka” dijadikan panggung. Frasa “orang yang senang cari muka” juga cerdas. Biasanya bernada negatif. Tapi di sini dibalik. Justru disarankan diberi muka. Agar reda. Agar tidak meledak. Humor halusnya di situ. Sedikit sinis. Sedikit realistis. Kalimat itu terasa ringan. Padahal berlapis. Ada budaya. Ada politik. Ada psikologi. Semua dibungkus seperti guyonan warung kopi. Itulah khasnya. Bahasa sehari-hari. Tapi maknanya lintas benua. Kadang yang paling tajam justru yang terdengar santai. Dan “muka”, mendadak jadi diplomasi.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

BOM YANG MENANGIS.. Mungkin, di suatu sudut sejarah yang sunyi, J. Robert Oppenheimer sedang menunduk. Bukan karena kalah. Tapi karena menang terlalu jauh. Ia pernah berkata: “Now I am become Death.” Waktu itu mungkin terdengar seperti kutipan puitis. Sekarang terasa seperti laporan keuangan dosa yang jatuh tempo. Bom nuklir diciptakan untuk mengakhiri perang. Tapi ternyata perang tidak pernah benar-benar ingin berakhir. Ia hanya ingin naik kelas. Dari peluru ke rudal. Dari rudal ke nuklir. Dari nuklir ke… negosiasi. Lucunya, hari ini kemenangan tidak lagi diukur dari ledakan. Tapi dari pernyataan: “tidak jadi bikin nuklir.” Sebuah kemenangan yang… tidak meledak. Oppenheimer mungkin bingung. Ia membuat bom agar dunia takut. Dunia memang takut. Tapi tetap saja bermain di tepi jurang. Seperti anak kecil diberi korek api. Yang lebih ironis, yang tidak jadi membuat bom justru dianggap kalah. Yang pernah punya bom dianggap pemenang moral. Logika baru. Mungkin benar. Bukan bomnya yang salah. Tapi manusianya yang terlalu kreatif dalam mencari alasan untuk tetap bermusuhan. Kalau Oppenheimer masih hidup, mungkin ia tidak akan menangis karena bomnya. Tapi karena manusia tidak pernah benar-benar belajar.