Lalu ketika Amerika bilang apa susahnya menjinakkan ranjau-ranjau itu, Iran dengan enteng menjawab: kami lupa di mana saja posisi ranjau itu kami pasang!

Tentu Trump tahu: itu ledekan politik dan ejekan pertahanan. Maka bagi Trump lebih baik tiji-tibeh: Amerika memblokir mulut Selat Hormuz.

Anda sudah tahu: armada perang Amerika dipasang di mulut selat itu. Rapat. Biarlah tenggorokan Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi mulutnya dikuasai Amerika.

Maka harga elpiji di toko di dekat rumah Anda pun naik.

Anda juga sudah tahu: Trump amat suka menonjolkan hasil kerjanya. Begitu sering ia berpidato mengenai kesuksesannya dengan tambahan kalimat “belum pernah terjadi sebelumnya”. Atau “belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika”. Juga: “belum pernah berhasil dilakukan presiden-presiden sebelumnya”. Banyak sekali yang seperti itu, seolah, bahkan, seperti belum pernah ada presiden di Amerika sebelum Trump.

Maka saya menyesalkan terbitnya satu artikel satire di media Amerika yang dengan dingin membanting Trump pakai kalimat kesukaannya itu.

“Harga BBM di Amerika mencapai yang tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Kini inflasi di Amerika sangat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Pertumbuhan ekonomi Amerika terus menurun yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Masih panjang daftar satire itu. Tapi mana Trump peduli. Ia terus menyerang para pengkritiknya. Ternyata, kata Sasa (Heralda Savira, Red), yang jadi host podcast saya setiap jam lima pagi (Dismorning) kemarin: “Menyerang itu cara Trump untuk bertahan,” ujar alumnus S-2 psikologi Unair itu.

Ternyata ”pertahanan terbaik adalah menyerang” itu ilmu psikologi. Saya pikir hanya ilmu sepak bola.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 14 April 2026: Cari Muka

Ima Lawaru

Pada buku Metode Jakarta halaman 276 karya Vincent Bevins, terjadi percakapan antara Barry (Barack Obama kecil) dan Lolo Soetoro( ayah tiri Barry). Yang mana percakapan itu juga dikutip oleh Vincent dari buku Dreams from My Father karya Barack Obama. Berikut percakapan ini saya kutip utuh. …Pernah sekali, sebelum mereka kembali ke Hawaii, Barry punya ide untuk bertanya kepada Lolo apakah ia pernah melihat orang dibunuh. Ia menundukkan pandangan, terkejut oleh pertanyaan ini. “Pernahkah?” “Ya,” jawabnya. “Berdarah-darah?” “Ya.” Aku berpikir sesaat. “Mengapa orang itu dibunuh? Yang ayah lihat?” “Sebab ia lemah.” “Cuma karena itu?” Lolo mengangkat bahu dan menggulung celana panjangnya lagi ke bawah. “Itu saja biasanya cukup. Orang memanfaatkan kelemahan pada diri orang lain. Dalam hal itu mereka sama seperti negara-negara. Orang kuat merebut tanah orang yang lemah. Ia buat orang yang lemah menggarap ladangnya. Bila istri si orang lemah itu cantik, orang yang kuat akan mengambilnya.” Ia jeda sejenak untuk meneguk air minum, lalu bertanya, “Kau ingin jadi yang mana?”