Home Ekonomi Starbucks Jual 60% Sahamnya di China: Ada Apa?
Ekonomi

Starbucks Jual 60% Sahamnya di China: Ada Apa?

Bagikan
Starbucks jual sahamnya
Starbucks, Image: GLady / Pixabay
Bagikan

finnews.id – Langkah mengejutkan datang dari raksasa kopi dunia. Starbucks jual sahamnya di China sebesar 60% dalam kesepakatan senilai $4 miliar dengan perusahaan investasi Boyu Capital. Gerakan ini langsung memicu tanda tanya besar: apakah ini sinyal menyerah terhadap pasar lokal yang makin kompetitif, atau justru strategi bertahan cerdas di tengah tekanan ekonomi yang berubah cepat?

China selama ini menjadi pasar terpenting bagi Starbucks setelah Amerika Serikat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, merek asal Seattle itu kesulitan menjaga dominasinya. Munculnya pesaing lokal seperti Luckin Coffee dan tren minuman cepat saji yang lebih murah membuat bisnis mereka melambat.

Mengapa Starbucks Melepas Kendali Mayoritas di China

Keputusan melepas sebagian besar kepemilikan menunjukkan adanya tekanan besar. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan penjualan Starbucks di China turun tajam akibat pandemi Covid-19, penurunan daya beli masyarakat, dan kebangkitan merek lokal yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Dengan menjual 60% sahamnya ke Boyu Capital, Starbucks berharap bisa mendapatkan mitra yang memahami perilaku konsumen China dengan lebih baik. Boyu dikenal sebagai investor besar di sektor ritel dan teknologi, dengan jaringan kuat di Shanghai, Hong Kong, dan Singapura. Langkah ini juga memperkuat sinyal bahwa Starbucks ingin lebih “mendarah daging” di pasar Tiongkok, bukan hanya hadir sebagai merek asing.

Perusahaan tetap mempertahankan 40% saham dan kendali atas merek Starbucks di China. Mereka menegaskan bahwa operasi akan tetap berbasis di Shanghai dan berencana mengembangkan hingga 20.000 gerai dalam beberapa tahun mendatang — naik dari sekitar 8.000 saat ini.

Persaingan Ketat dengan Merek Lokal

Salah satu tantangan utama datang dari Luckin Coffee, pesaing domestik yang kini memiliki lebih banyak gerai daripada Starbucks di seluruh China. Luckin menawarkan strategi harga agresif dan promosi digital yang menarik bagi generasi muda. Dengan diskon rutin dan aplikasi pemesanan yang efisien, mereka berhasil merebut hati konsumen urban.

Sementara itu, Starbucks mencoba menyesuaikan diri dengan memperkenalkan menu lokal, menurunkan harga, dan memperluas layanan digital. Namun strategi itu juga menekan margin keuntungan mereka. Inilah salah satu alasan mengapa kemitraan baru dianggap penting: Boyu diharapkan dapat membantu mengoptimalkan strategi pemasaran, sekaligus menjaga profitabilitas di tengah tekanan pasar.

Bagikan
Artikel Terkait
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Ekonomi

Lampu Hijau Ekonomi! Sektor Manufaktur RI Ngamuk di Awal 2026, Siap-Siap Kebanjiran Pesanan?

finnews.id – Kabar gembira buat kamu yang sedang memantau ekonomi nasional! Sektor...

Bank Indonesia catat kinerja dunia usaha Triwulan I 2026 tetap tangguh! SBT tembus 10,11%, sektor pertanian & tambang siap melesat di triwulan depan.
Ekonomi

Jangan Sampai Ketinggalan! Dunia Usaha RI 2026 Masih On Track, Sektor-Sektor Ini Bakal Cuan Gede?

finnews.id – Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan tajinya di awal tahun ini! Bank...

Ekonomi

Katalog Promo Superindo Hari Ini 17 April 2026: Diskon Bahan Segar, Pas untuk Stok Dapur

finnews.id – Jaringan swalayan Superindo kembali memanjakan para pelanggan setianya dengan menggelar...

Ekonomi

Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran

finnews.id – Industri perhotelan nasional tengah menghadapi tekanan serius. Indonesian Hotel General Manager...