finnews.id – Grab Singapura baru saja mengukir prestasi gemilang dengan mencatatkan pendapatan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi Wall Street pada Selasa, 5 Mei 2026.
Keberhasilan ini berkat tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan transportasi serta pengiriman makanan. Strategi perusahaan yang meluncurkan berbagai promosi menarik dan fitur gabungan terbukti ampuh memikat hati pelanggan.
Sebagai raksasa transportasi dan pengiriman terbesar di Asia Tenggara, Grab terus berinovasi untuk meningkatkan transaksi pengguna. Salah satu langkah strategisnya adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam superapp mereka.
Perusahaan ini menyatukan layanan inti seperti transportasi, pengiriman, hingga sektor keuangan dalam satu ekosistem yang solid.
Strategi Layanan Hemat di Tengah Kenaikan Biaya Hidup
Menghadapi tantangan harga minyak dan gas yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah, Grab merespons dengan menyediakan opsi layanan yang lebih terjangkau. Program “hemat” menjadi senjata utama untuk menarik konsumen yang kini lebih waspada terhadap biaya pengeluaran sehari-hari.
CFO Grab, Peter Oey, mengungkapkan kepada Reuters bahwa sekitar 35 persen pengguna kini aktif menggunakan program “hemat” tersebut. Mereka lebih memilih opsi pengiriman yang lebih murah demi efisiensi biaya.
“Ini adalah keseimbangan yang sangat baik antara pelanggan yang sensitif terhadap harga dan pelanggan yang kurang sensitif terhadap harga. Hal itu memberi kami kendali untuk terus memastikan bahwa margin bisnis pengiriman kami terus meningkat,” ujar Peter Oey.
Pertumbuhan Finansial yang Signifikan
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh LSEG, pendapatan kuartalan Grab tumbuh pesat sebesar 24 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi US$955 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan awal para analis yang memprediksi angka US$921,1 juta.
Secara spesifik, sektor pengiriman menyumbang kenaikan 23 persen dengan nilai US$510 juta. Sementara itu, pendapatan dari sektor mobilitas atau transportasi naik 19 persen ke angka US$337 juta. Kabar positif ini langsung berdampak pada nilai saham perusahaan yang terkerek naik 1,6 persen pada perdagangan setelah jam kerja.
Kinerja positif ini juga terlihat dari Nilai Barang Dagangan Bruto (GMV) yang naik 24 persen menjadi US$6,1 miliar. Pertumbuhan ini tetap stabil meskipun pasar sempat melewati periode penurunan musiman yang biasanya terjadi setelah masa perayaan regional di Asia Tenggara.
Dari sisi profitabilitas, Grab sukses membukukan laba sebesar US$120 juta, melesat jauh dibandingkan laba tahun sebelumnya yang hanya US$10 juta.