Home Market Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Grab & GoTo Tertekan? Analis Bongkar Dampaknya ke Laba
Market

Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Grab & GoTo Tertekan? Analis Bongkar Dampaknya ke Laba

Bagikan
Komisi ojol dipangkas jadi 8%. Analis sebut laba Grab dan GoTo terancam, pasar tunggu kepastian aturan.
Ilustrasi
Bagikan

finnews.id – Kebijakan baru pemerintah yang memangkas komisi layanan ride-hailing langsung mengguncang industri. Dalam langkah yang diumumkan pada 1 Mei 2026, pemerintah menurunkan batas komisi dari 20% menjadi hanya 8%. Tujuannya jelas: meningkatkan kesejahteraan pengemudi ojek online.

Namun, di balik kabar baik bagi driver, analis melihat potensi tekanan serius terhadap kinerja keuangan operator besar seperti Grab Holdings dan GoTo Group. Kebijakan ini membuka babak baru dalam dinamika bisnis transportasi digital di Indonesia.

Driver Diuntungkan, Perusahaan Hadapi Tekanan Margin

Pemangkasan komisi ini mendapat sambutan positif dari para pengemudi karena pendapatan mereka berpotensi meningkat. Selain itu, pemerintah juga mewajibkan perusahaan menyediakan perlindungan asuransi kesehatan dan kecelakaan.

Meski begitu, kebijakan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan analis. Mereka menilai margin keuntungan perusahaan bisa tergerus, terutama di pasar Indonesia yang menjadi salah satu kontributor utama bisnis ride-hailing di Asia Tenggara.

Dampak ke Grab Bisa Capai Puluhan Juta Dolar

Indonesia memegang peran penting dalam bisnis Grab. Karena itu, perubahan struktur komisi berpotensi memberi dampak langsung pada kinerja perusahaan.

Analis memperkirakan, jika kebijakan ini hanya berlaku untuk layanan roda dua, EBITDA tahunan Grab bisa berkurang sekitar US$5 juta hingga US$10 juta. Namun, jika aturan mencakup layanan mobil, dampaknya melonjak signifikan hingga US$35 juta sampai US$40 juta.

Angka tersebut setara dengan sekitar 5% dari proyeksi EBITDA mobilitas Grab pada 2026. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai bersikap lebih hati-hati.

Pasar Tunggu Kepastian Implementasi

Analis Citi, Alicia Yap, menilai respons pasar cenderung negatif dalam jangka pendek. Investor masih menunggu kejelasan terkait waktu penerapan serta cakupan layanan yang terdampak.

Selain itu, pemerintah belum memberikan kepastian apakah perusahaan boleh menyesuaikan tarif untuk menutup potensi kenaikan biaya. Ketidakjelasan ini menambah ketidakpastian di sektor ride-hailing.

GoTo Kaji Dampak, Risiko EBITDA Tertekan

Di sisi lain, GoTo langsung mengambil langkah evaluasi. CEO GoTo, Hans Patuwo, menegaskan bahwa perusahaan akan mematuhi regulasi sambil mengkaji penyesuaian operasional.

Bagikan
Artikel Terkait
Rangkuman perdagangan 4 Mei 2026: IHSG naik tipis ke 6.971, asing catat net buy Rp1,9 triliun.
Market

Rangkuman Perdagangan 4 Mei 2026: IHSG Menguat Tipis, Asing Borong Saham Ini!

finnews.id – Pergerakan pasar saham Indonesia pada awal pekan menunjukkan arah positif....

Market

KAI Logistik Sabet Penghargaan Indonesia Human Capital Awards 2026, Bukti Komitmen SDM dan K3

finnews.id – KAI Logistik meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Human Capital Awards...

Market

Kinerja CIMB Niaga Q1 2026 Moncer! Laba Tembus Rp2,3 Triliun, Transaksi Digital Makin Dominan

finnews.id – Kinerja keuangan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada kuartal...

Market

Akhir Perjalanan Spirit Airlines !! 34 Tahun Mengudara, Kini Bangkrut dan Hentikan Operasi

finnews.id – Setelah lebih dari tiga dekade melayani penumpang, maskapai berbiaya rendah...