Home Market Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Grab & GoTo Tertekan? Analis Bongkar Dampaknya ke Laba
Market

Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Grab & GoTo Tertekan? Analis Bongkar Dampaknya ke Laba

Bagikan
Komisi ojol dipangkas jadi 8%. Analis sebut laba Grab dan GoTo terancam, pasar tunggu kepastian aturan.
Ilustrasi
Bagikan

Kebijakan ini datang di momen penting bagi GoTo yang baru saja mencatat laba bersih kuartalan pertamanya. Namun, analis Macquarie Capital mengingatkan adanya tekanan jangka pendek terhadap prospek perusahaan.

Mereka menilai, batas komisi yang lebih rendah berpotensi menekan profitabilitas layanan on-demand. Apalagi, perusahaan juga harus menanggung biaya tambahan untuk perlindungan sosial pengemudi.

Dalam skenario tertentu, segmen ini bahkan berisiko kembali mencatat EBITDA negatif. Proyeksi jangka panjang pun ikut terpengaruh.

Proyeksi Laba Bisa Turun Drastis

Macquarie memperkirakan EBITDA GoTo pada 2027 bisa turun lebih dari 70% dibandingkan estimasi sebelumnya. Meski demikian, perusahaan masih memiliki peluang untuk menahan tekanan melalui efisiensi biaya dan strategi monetisasi baru.

Kekhawatiran ini langsung tercermin di pasar. Saham GoTo tercatat melemah 5,56% seiring meningkatnya kekhawatiran investor.

Isu Danantara Tambah Sorotan Pasar

Selain kebijakan komisi, pelaku pasar juga mencermati potensi masuknya dana investasi negara melalui Danantara Indonesia ke sektor ini. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sempat menyebut kemungkinan akuisisi saham di Grab atau GoTo.

Meski begitu, pihak Danantara masih melakukan evaluasi dan belum memberikan konfirmasi terkait rencana spesifik. Situasi ini membuat arah industri semakin dinamis dan penuh spekulasi.

Industri Ride-Hailing Masuk Fase Baru

Kebijakan pemangkasan komisi menandai meningkatnya peran pemerintah dalam mengatur industri digital yang melibatkan jutaan pekerja. Di satu sisi, langkah ini memperkuat perlindungan bagi driver. Namun di sisi lain, perusahaan harus beradaptasi cepat agar tetap menjaga profitabilitas.

Dengan berbagai ketidakpastian yang masih menggantung, investor kini menunggu langkah strategis dari para pemain besar untuk menjaga kinerja di tengah perubahan regulasi. (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Rangkuman perdagangan 4 Mei 2026: IHSG naik tipis ke 6.971, asing catat net buy Rp1,9 triliun.
Market

Rangkuman Perdagangan 4 Mei 2026: IHSG Menguat Tipis, Asing Borong Saham Ini!

TINS juga masuk daftar dengan pembelian Rp91,7 miliar. Selanjutnya BRPT, BBNI, dan...

Market

KAI Logistik Sabet Penghargaan Indonesia Human Capital Awards 2026, Bukti Komitmen SDM dan K3

finnews.id – KAI Logistik meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Human Capital Awards...

Market

Kinerja CIMB Niaga Q1 2026 Moncer! Laba Tembus Rp2,3 Triliun, Transaksi Digital Makin Dominan

Fokus utama meliputi: Energi terbarukan UMKM Sustainability-linked loans Dari total tersebut, pembiayaan...

Market

Akhir Perjalanan Spirit Airlines !! 34 Tahun Mengudara, Kini Bangkrut dan Hentikan Operasi

Banyak penumpang yang selama ini mengandalkan Spirit Airlines karena tarifnya yang terjangkau,...