Home Ekonomi Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran
Ekonomi

Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Industri perhotelan nasional tengah menghadapi tekanan serius. Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) meminta pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan efisiensi anggaran yang dinilai berdampak langsung pada penurunan okupansi hotel di seluruh Indonesia.

Dalam konferensi pers di Lombok Barat, Ketua Organizing Committee Rakernas IHGMA, Fahrurrazi, menegaskan pentingnya dukungan kebijakan pemerintah terhadap sektor perhotelan. Ia menyebut, efisiensi belanja pemerintah selama setahun terakhir telah menyebabkan penurunan bisnis hotel secara signifikan, yakni sekitar 27 hingga 30 persen secara nasional.

Selama ini, industri perhotelan masih sangat bergantung pada aktivitas pemerintah, seperti rapat dinas, pertemuan, hingga kegiatan resmi lainnya. Ketika anggaran untuk kegiatan tersebut dikurangi, permintaan kamar hotel pun ikut merosot.

Meski begitu, pelaku industri tidak tinggal diam. Berbagai strategi adaptif terus dilakukan untuk menjaga kelangsungan usaha, mulai dari efisiensi biaya operasional hingga inovasi layanan.

“Industri perhotelan selalu dinamis. Kami terus berupaya menekan biaya dan melakukan berbagai penyesuaian agar tetap bertahan,” ujar Fahrurrazi.

Di sisi lain, sektor perhotelan juga memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan negara dan daerah melalui pajak hotel. Bahkan, pajak hotel menjadi salah satu penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD), berada di posisi kedua hingga ketiga di berbagai wilayah.

IHGMA pun kembali menegaskan harapannya agar pemerintah mempertimbangkan ulang kebijakan efisiensi tersebut demi menjaga stabilitas industri.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat hunian kamar hotel berbintang pada Februari 2026 berada di angka 44,89 persen, turun dari 47,53 persen pada Januari 2026.

Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu juga tergolong singkat, yakni hanya sekitar 1,6 hari. Hal ini berdampak pada rendahnya perputaran ekonomi di sektor perhotelan.

Ketua Umum IHGMA, I Gede Arya Pering Arimbawa, menambahkan bahwa faktor global juga turut memengaruhi kondisi ini.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan penerbangan internasional, ikut menekan jumlah wisatawan mancanegara.

Menurutnya, Bali menjadi daerah yang paling terdampak karena memiliki ketergantungan tinggi pada pasar internasional.

Dengan berbagai tantangan tersebut, IHGMA berharap adanya kebijakan yang lebih seimbang agar industri perhotelan tetap mampu bertahan dan berkontribusi bagi perekonomian nasionall.

 

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini 17 April 2026 Stabil, Simak Rincian Pajak dan Cara Belinya

finnews.id – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali merilis rincian harga emas...

IMF peringatkan perang Iran picu krisis energi & pangan global. 20 juta orang terancam lapar, ekonomi Asia Tenggara ikut goyang akibat impor minyak mahal!
Ekonomi

IMF: Perang Iran Bisa Bikin 20 Juta Orang Kelaparan!

finnews.id – Kabar buruk datang dari Washington! Para ekonom Dana Moneter Internasional...

PTPP sukses topping off RSJPD Harapan Kita - Tokushukai senilai Rp882 M! RS jantung smart hospital pertama dengan teknologi AI dan IoT.
Ekonomi

Gaspol! PTPP Tuntaskan Struktur RS Jantung Tercanggih di RI, Bakal Pakai AI dan IoT yang Bikin Melongo!

finnews.id – Sobat konstruksi dan pencinta kesehatan, ada kabar luar biasa dari...

Ekonomi

Rupiah Melemah, Cicilan KPR Bakal Naik?

finnews.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kerap memicu kekhawatiran masyarakat,...