Home Market Surplus Dagang RI Melonjak! Tembus US$3,32 Miliar di Maret 2026, Tapi Ada Ancaman Baru
Market

Surplus Dagang RI Melonjak! Tembus US$3,32 Miliar di Maret 2026, Tapi Ada Ancaman Baru

Bagikan
Surplus dagang RI melonjak ke US$3,32 miliar di Maret 2026. Namun lonjakan impor minyak dan ekspor melemah jadi ancaman.
Ilustrasi Ekspor - Impor (Pexels - Tom Fisk)
Bagikan

finnews.id – Kinerja perdagangan Indonesia kembali mencuri perhatian. Setelah sempat melemah, surplus neraca dagang melonjak tajam pada Maret 2026. Namun di balik lonjakan ini, tekanan dari sektor energi dan permintaan global mulai terlihat.

Laporan MacroInsight mencatat surplus dagang Indonesia mencapai US$3,32 miliar pada Maret 2026. Angka ini naik signifikan dibandingkan Februari 2026 yang hanya US$1,28 miliar.

Secara kumulatif, surplus sepanjang kuartal I 2026 tercatat sebesar US$5,6 miliar. Capaian ini masih berada di batas bawah proyeksi kisaran US$5–7 miliar per kuartal.

Impor Turun Jadi Kunci Lonjakan

Kenaikan surplus terjadi karena penurunan impor yang cukup tajam. Nilai impor turun 8 persen secara bulanan, sementara ekspor justru tumbuh 1,6 persen.

Penurunan impor ini memberikan ruang besar bagi neraca perdagangan untuk kembali mencatat surplus lebih tinggi.

Namun, di sisi lain, defisit sektor minyak dan gas (migas) justru melebar. Pada Maret 2026, defisit migas mencapai minus US$1,89 miliar, naik dari minus US$0,92 miliar pada Februari.

Penyebabnya jelas, impor migas melonjak hingga 58,5 persen secara bulanan.

Non-Migas Jadi Penopang Utama

Kinerja positif datang dari sektor non-migas. Surplus non-migas melonjak menjadi US$5,21 miliar dari sebelumnya US$2,19 miliar.

Kenaikan ini menjadi penopang utama surplus perdagangan Indonesia di tengah tekanan dari sektor energi.

Ekspor Melemah, CPO Jadi Sorotan

Meski secara bulanan naik, kinerja ekspor secara tahunan justru menurun. Nilai ekspor turun 3,1 persen yoy menjadi US$22,5 miliar.

Penurunan ini terutama dipicu oleh anjloknya ekspor minyak kelapa sawit (CPO) yang merosot hingga 35,3 persen yoy. Volume ekspor bahkan turun mendekati level terendah dalam satu tahun terakhir.

Selain itu, ekspor besi dan baja juga mengalami penurunan sebesar 1,30 persen yoy.

Batu Bara Jadi Penyelamat

Di tengah tekanan tersebut, komoditas batu bara justru tampil sebagai penahan penurunan. Ekspor batu bara mencatat pertumbuhan 2,7 persen yoy, didorong kenaikan harga sebesar 7 persen.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Grab Singapura Cetak Pendapatan US$955 Juta di Kuartal I, Lampaui Ekspektasi Wall Street! 

finnews.id – Grab Singapura baru saja mengukir prestasi gemilang dengan mencatatkan pendapatan...

Market

CIMB Niaga Gandeng 27 Perguruan Tinggi, Dorong Pengembangan Talenta Muda

finnews.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan...

Laba CIMB Niaga Q1 2026 turun tipis jadi Rp1,77 triliun, meski margin tetap kuat di tengah tekanan pendapatan.
Market

Laba CIMB Niaga Q1 2026 Turun Tipis Jadi Rp1,77 Triliun, Margin Masih Tebal!

finnews.id – Kinerja PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada kuartal pertama...

IHSG naik ke 7.057 dengan transaksi Rp23,6 triliun. BRPT dan TPIA melonjak, meski asing masih catat net sell Rp518 miliar.
Market

IHSG Melejit ke 7.057! Saham BRPT Cs Terbang, Asing Masih Net Sell Rp518 Miliar

finnews.id – Pergerakan pasar saham Indonesia menunjukkan sinyal positif pada perdagangan Selasa,...