finnews.id – Tekanan inflasi di Indonesia memang mulai mereda pada April 2026. Namun, di balik kabar baik tersebut, sinyal kenaikan harga justru mulai muncul dari sejumlah sektor penting. Kondisi ini membuat arah inflasi ke depan masih penuh tantangan.
Laporan MacroInsight mencatat inflasi tahunan turun ke level 2,42 persen year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen yoy. Penurunan ini didorong normalisasi harga pangan pasca Lebaran serta meredanya dampak tarif listrik.
Semua Komponen Inflasi Melandai
Perlambatan inflasi terjadi hampir di seluruh komponen. Inflasi inti turun ke 2,44 persen yoy dari sebelumnya 2,52 persen yoy. Salah satu faktor pendorongnya adalah penurunan harga emas perhiasan yang mencatat deflasi lebih dalam, yakni minus 3,8 persen secara bulanan.
Sementara itu, kelompok harga bergejolak (volatile food) juga ikut mereda menjadi 3,37 persen yoy dari sebelumnya 4,24 persen yoy. Harga pangan yang lebih stabil berperan besar dalam menahan laju inflasi.
Di sisi lain, harga yang diatur pemerintah (administered prices) turun signifikan ke 1,53 persen yoy dari 6,08 persen yoy pada bulan sebelumnya.
Tekanan Baru Mulai Muncul
Meski tren inflasi terlihat melandai, tekanan baru mulai terlihat. Kenaikan biaya transportasi menjadi salah satu pemicu utama yang patut diwaspadai.
Inflasi transportasi penumpang tercatat mencapai 6,46 persen yoy, tertinggi dalam hampir tiga tahun. Lonjakan ini dipicu kenaikan tarif pesawat sebesar 15,25 persen secara bulanan, seiring melonjaknya harga bahan bakar avtur hingga 82,3 persen yoy.
Selain itu, harga minyak goreng curah juga menunjukkan kenaikan. Secara tahunan, harga komoditas ini meningkat 8,6 persen, yang turut memberikan tekanan pada inflasi inti.
Tembakau Ikut Naik Perlahan
Komoditas tembakau juga menunjukkan tren kenaikan yang konsisten sejak mencapai titik terendah pada Januari 2026. Meski kenaikannya bertahap, pergerakan ini tetap berkontribusi terhadap tekanan inflasi.
Jika tren ini berlanjut, tembakau berpotensi menjadi salah satu faktor tambahan yang mendorong inflasi lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Risiko Inflasi Masih Mengarah Naik
Ke depan, risiko inflasi dinilai masih condong meningkat. Laporan PMI manufaktur terbaru menunjukkan harga bahan baku terus naik. Kenaikan ini diduga berasal dari lonjakan biaya solar industri, pupuk, serta kemasan.
- analisis tekanan inflasi dari biaya transportasi dan avtur
- biaya transportasi
- dampak kenaikan minyak goreng terhadap inflasi inti
- ekonomi Indonesia
- faktor yang mempengaruhi inflasi setelah lebaran
- harga bahan bakar
- harga pangan
- inflasi April 2026
- inflasi Indonesia 2026
- inflasi inti
- minyak goreng
- penyebab inflasi april 2026 turun di indonesia
- pmi manufaktur
- proyeksi inflasi
- proyeksi inflasi indonesia 2026 menurut macroinsight
- strategi pemerintah menjaga stabilitas harga 2026