Meski volume turun 4,1 persen, kenaikan harga berhasil menjaga nilai ekspor tetap positif.
Sektor pertambangan pun hanya mencatat kontraksi tipis sebesar 2,15 persen yoy, menjadi yang paling ringan sejak Oktober 2024.
Sementara itu, ekspor sektor pertanian justru tertekan dalam, turun hingga 44,14 persen yoy.
Lonjakan Impor Minyak Jadi Risiko
Di sisi impor, kenaikan harga minyak global mulai terasa. Impor minyak mentah melonjak drastis hingga 200,8 persen yoy. Sementara impor minyak olahan naik 35,3 persen yoy.
Secara keseluruhan, impor tumbuh 1,51 persen yoy menjadi US$19,21 miliar.
Untuk non-migas, impor barang konsumsi justru turun 10,81 persen yoy. Sebaliknya, impor bahan baku dan barang modal masih tumbuh masing-masing 2,15 persen dan 4,98 persen.
Prospek Surplus Mulai Tertekan
Ke depan, tekanan terhadap surplus perdagangan diperkirakan meningkat. Harga minyak yang tinggi berpotensi memperlebar defisit migas, terutama jika konflik global terus berlanjut.
Selain itu, permintaan global yang melemah juga bisa menekan ekspor. Hal ini tercermin dari turunnya indeks PMI manufaktur pada April 2026.
Meski begitu, ada faktor penahan. Kondisi pasokan yang lebih ketat bisa menekan impor bahan baku dan barang modal, sehingga membantu menjaga keseimbangan neraca non-migas.
Proyeksi Kuartal II Lebih Moderat
MacroInsight memperkirakan surplus perdagangan pada kuartal II 2026 akan lebih kecil, berada di kisaran US$3 hingga US$5 miliar.
Artinya, meski kinerja Maret terlihat kuat, tantangan ke depan tetap besar. Kombinasi antara harga energi tinggi dan permintaan global yang melemah akan menjadi faktor penentu arah perdagangan Indonesia selanjutnya. (*)