finnews.id – Nilai tukar rupiah kembali terperosok tajam dan makin membuat pelaku pasar waswas. Pada perdagangan Rabu pagi (29/4/2026), mata uang Garuda terpantau jatuh hingga menembus level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, hingga pukul 09.18 WIB rupiah tercatat melemah 0,52% ke posisi Rp17.300/US$. Angka ini menandai tekanan yang kian dalam sejak awal pembukaan pasar hari ini.
Sejak pagi, tekanan sudah terasa. Rupiah dibuka melemah 0,26% ke level Rp17.255/US$, melanjutkan tren negatif dari penutupan sebelumnya pada Selasa (28/4/2026) yang juga turun 0,15% di posisi Rp17.210/US$.
Awan Gelap Global Tekan Rupiah
Pelemahan rupiah bukan tanpa sebab. Pelaku pasar global saat ini memilih bersikap “wait and see” menjelang pengumuman suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Keputusan ini dinilai krusial karena akan menentukan arah pergerakan dolar dan arus modal global.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih membayangi pasar. Konflik yang belum mereda memicu lonjakan harga minyak dunia, memperbesar risiko inflasi global.
Kondisi ini membuat investor semakin berhati-hati. Jika inflasi terus meningkat, bank sentral dunia berpotensi mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama—sebuah kabar buruk bagi negara berkembang seperti Indonesia yang rentan terhadap arus keluar modal.
Rupiah di Persimpangan Kritis
Kombinasi tekanan eksternal ini membuat rupiah berada di titik rawan. Jika sentimen global tidak membaik dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin pelemahan akan berlanjut dan menembus level yang lebih dalam.
Pasar kini menanti arah kebijakan The Fed sekaligus perkembangan geopolitik global sebagai penentu langkah berikutnya bagi rupiah.