Home Market Tak Harus 24 Jam, Pengusaha Warteg Ungkap Jam Operasional Warteg Kini Fleksibel
Market

Tak Harus 24 Jam, Pengusaha Warteg Ungkap Jam Operasional Warteg Kini Fleksibel

Bagikan
Foto ilustrasi menu warteg (Dokumen Istimewa)
Bagikan

finnews.id – Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, menyampaikan bahwa tidak semua warteg perlu beroperasi selama 24 jam penuh.

Ia menilai saat ini jam buka warteg lebih fleksibel dan bergantung pada kondisi lingkungan, serta tingkat kebutuhan pelanggan di masing-masing lokasi.

Menurutnya, warteg yang berada di area dengan aktivitas rendah akan kurang efisien jika dipaksakan buka sepanjang hari

“Kalau sudah sepi, ya tidak efisien kalau tetap buka. Kecuali di rumah sakit atau tempat yang memang ramai 24 jam,” ungkap Mukroni.

Sebaliknya warteg di kawasan dengan mobilitas tinggi, seperti sekitar rumah sakit atau pusat transportasi, masih berpotensi beroperasi tanpa henti karena permintaan yang stabil.

Mukroni menegaskan bahwa pola usaha warteg tetap mengikuti prinsip ekonomi dasar, yaitu keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

“Karena anggota kami banyak. Kami memilih koperasi agar bisa menekan biaya melalui pembelian bersama,” ucapnya.

Oleh karena itu, perubahan jam operasional merupakan hal yang wajar sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika pasar saat ini.

Di sisi lain, ia juga menjelaskan peran Koperasi Warteg Nusantara sebagai wadah yang menaungi para pelaku usaha warteg.

Koperasi tersebut telah memiliki legalitas resmi, sehingga mampu memberikan dukungan yang lebih kuat bagi anggotanya dalam menjalankan usaha.

Salah satu keuntungan yang ditawarkan koperasi adalah, sistem pembelian bahan baku dalam jumlah besar.

Dengan cara ini, anggota dapat memperoleh harga yang lebih terjangkau dibandingkan membeli secara mandiri.

Beberapa kebutuhan utama seperti beras, minyak goreng, gula, telur, hingga gas menjadi fokus utama pengadaan.

Meski demikian, Mukroni mengingatkan pentingnya pengelolaan yang cermat, terutama untuk bahan pangan yang mudah rusak seperti telur.

Ia menekankan bahwa pembelian harus tetap dibatasi agar kualitas tetap terjaga sekaligus menghindari pemborosan dalam distribusi.

Bagikan
Written by
Tuahta Aldo

Saya merupakan jurnalis fin.co.id yang bertugas meliput peristiwa di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. Selain aktif sebagai penulis berita, saya juga aktif menjalani hobi Fotografi dan travelling.

Artikel Terkait
Market

Evolusi Warteg Modern !! Inovasi Tanpa Meninggalkan Cita Rasa Rumahan

finnews.id – Belakangan ini, masyarakat Indonesia ramai membicarakan kemunculan warung tegal dengan...

Market

Tarif Terjangkau, Kereta Bukit Serelo Dorong Mobilitas dan Ekonomi Sumatra Selatan

finnews.id – Minat masyarakat terhadap transportasi kereta api di Sumatra Selatan, hingga...

Market

Tekan Kenaikan Harga dalam Negeri, Pemerintah Gratiskan Bea Masuk Bahan Baku Plastik

finnews.id – Pemerintah mengambil langkah cepat untuk meredam potensi lonjakan harga produk...

Yamaha EC-06
Market

Subsidi Motor Listrik 2026 Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Skema Rp5 Juta per Unit

finnews.id – Kabar terbaru bagi masyarakat yang menantikan insentif kendaraan ramah lingkungan....