Home Kurs Rupiah ‘Salah Harga’ 8,5 Persen! BI Tahan Suku Bunga 4,75% dan Rilis Senjata Rahasia, Sinyal Bahaya atau Peluang?
Kurs

Rupiah ‘Salah Harga’ 8,5 Persen! BI Tahan Suku Bunga 4,75% dan Rilis Senjata Rahasia, Sinyal Bahaya atau Peluang?

Bagikan
Rupiah keok, Bank Indonesia ambil langkah ekstrem! BI tahan suku bunga 4,75% dan luncurkan senjata baru demi selamatkan mata uang garuda.
Ilustrasi Rupiah
Bagikan

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari jantung moneter Indonesia. Bank Indonesia (BI) baru saja memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada pengumuman April 2026. Fokus otoritas moneter kini cuma satu: menyelamatkan stabilitas Rupiah yang sedang dalam tekanan hebat di pasar global. Mata uang kebanggaan kita ini mencatatkan performa yang cukup mengkhawatirkan dibanding negara berkembang lainnya.

Pasar sedang panas karena sepanjang tahun berjalan (YTD), Rupiah sudah melemah hingga 2,8%. Angka ini jauh di bawah rata-rata mata uang negara berkembang (Emerging Markets) yang justru menguat 0,9%. BI memandang posisi mata uang garuda saat ini sudah “salah harga” alias undervalued secara signifikan. Jika melihat fundamentalnya, seharusnya mata uang kita bergerak jauh lebih perkasa.

Analisis Model BEER: Rupiah Harusnya di Level Rp15.668?

Berdasarkan hitungan pakar menggunakan model Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER), nilai wajar (fair value) Rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.668 per US$. Ini artinya, saat ini terjadi pelemahan yang tidak wajar sekitar 8,5%. Di kawasan Asia Tenggara, hanya Peso Filipina yang nasibnya lebih tragis dengan tingkat undervaluation mencapai 10%.

Namun, tantangan berat menanti di depan mata pada kuartal kedua (2Q26). BI mengidentifikasi beberapa faktor penghambat yang bisa menjegal penguatan Rupiah. Mulai dari pelemahan transaksi berjalan, musim repatriasi dividen ke luar negeri, hingga melambatnya aliran Penanaman Modal Asing (FDI). Investor wajib waspada karena sentimen musiman ini biasanya menguras suplai dolar di pasar domestik secara masif.

Senjata Baru: Intervensi Non-Spot untuk Redam Gejolak Valas

Tak hanya diam dengan menahan suku bunga, BI langsung tancap gas merilis kebijakan intervensi valuta asing (valas) tambahan. Otoritas moneter kini mengizinkan primary dealers yang memiliki rekanan luar negeri untuk menjual US$ NDF (Non-Deliverable Forward). Langkah cerdas ini bertujuan untuk memperdalam likuiditas pasar valas dan menjaga stabilitas kurs di pasar internasional.

Bagikan
Artikel Terkait
Bank Indonesia beri sinyal hawkish! Suku bunga acuan berpotensi naik 25 bps pada Mei 2026 demi jaga rupiah dan inflasi.
Kurs

BI Beri Kode Hawkish, Siap-Siap Bunga Acuan Bakal Terbang di Mei?

finnews.id – Pasar keuangan Indonesia sedang berada di titik didih. Bank Indonesia...

Kurs

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.181 per Dolar AS, Akibat Beban Utang dan Tekanan Ketidakpastian Global

finnews.id – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026),...

Rupiah melemah ke Rp17.161 setelah Iran tolak runding dengan AS di Pakistan. Investor tunggu hasil RDG BI di tengah blokade Selat Hormuz oleh Trump
Kurs

Iran Kabur dari Meja Perundingan, Rupiah Langsung Nyungsep ke Level Rp17.161 Per Dolar AS

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari panggung geopolitik Timur Tengah yang bikin...

Dolar AS capai level tertinggi sepekan akibat konflik AS-Iran di Selat Hormuz dan data ekonomi AS yang kuat. Euro dan Yen Jepang melemah tajam!
Kurs

Dolar AS Ngamuk ke Level Tertinggi! Euro dan Yen Babak Belur Gara-Gara Selat Hormuz Makin Mencekam

finnews.id – Waspada buat kamu yang sering transaksi pakai mata uang asing!...