finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari panggung geopolitik Timur Tengah yang bikin pasar keuangan domestik bergetar hebat pagi ini! Kamu yang sering memantau nilai tukar mata uang harus siap-siap, karena rupiah baru saja tersungkur setelah muncul berita bahwa Iran melakukan walk out atau menolak menghadiri kelanjutan perundingan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan. Dampaknya? Mata uang Garuda kita langsung loyo menghadapi keperkasaan dolar AS.
Pada Rabu pagi (22/4/2026), rupiah langsung dibuka melemah terbatas. Berdasarkan data terbaru, rupiah kini sedang bertarung di level Rp17.161 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 19 poin atau sekitar 0,11 persen jika kita bandingkan dengan posisi penutupan Selasa kemarin yang masih nangkring di Rp17.142. Gejolak ini tentu bikin investor ketar-ketir dan memilih mode wait and see sambil memantau perkembangan dari markas besar Bank Indonesia.
Timur Tengah Makin Panas: Trump Blokade Selat Hormuz, Iran Ogah Negosiasi
Kenapa situasi ini bisa terjadi? Ternyata, meskipun Presiden AS Donald Trump sudah memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, Iran justru menunjukkan sikap keras. Teheran menolak mentah-mentah untuk kembali ke meja perundingan di Pakistan. Ketidakhadiran Iran ini menjadi sentimen negatif yang sangat kuat dan menekan kurs rupiah ke zona merah.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa perkembangan di Timur Tengah saat ini sangat rumit. Iran merasa tidak memiliki alasan lagi untuk berunding karena Trump terus mengeluarkan pernyataan provokatif dengan syarat-syarat yang hampir mustahil untuk mereka terima. Ketidakpastian ini membuat aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik bagi para pemilik modal global.
Blokade Selat Hormuz Masih Berlaku, Nadi Minyak Dunia Terancam
Satu hal yang wajib kamu waspadai adalah kebijakan Washington yang tetap mempertahankan blokade laut di Selat Hormuz. Kamu perlu tahu bahwa jalur perairan ini adalah titik paling krusial di dunia karena menjadi jalur utama bagi seperlima pengiriman minyak mentah global. Selama blokade ini belum dibuka, harga energi akan terus dihantui ketidakpastian tinggi.