finnews.id – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan domestik. Rupiah turun 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.181 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp17.143.
Pelemahan ini terjadi seiring memanasnya dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan arah jelas terkait gencatan senjata.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai ketidakpastian konflik menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.
Presiden AS Donald Trump disebut memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu guna membuka ruang negosiasi. Namun, langkah tersebut dinilai belum mendapat respons pasti dari Iran.
Di sisi lain, kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran oleh Angkatan Laut AS tetap berlanjut dan memicu ketegangan baru. Bahkan, Iran dikabarkan siap merespons dengan langkah tegas jika tekanan terus meningkat.
Situasi ini membuat pelaku pasar global cenderung menghindari risiko (risk-off), sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Tekanan Domestik: Jatuh Tempo Utang Membengkak
Selain faktor eksternal, rupiah juga dibayangi tekanan dari dalam negeri. Pemerintah Indonesia menghadapi jatuh tempo utang jumbo pada 2026 yang mencapai Rp833,96 triliun—tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Lonjakan ini menjadi tantangan besar dalam pengelolaan fiskal, terutama di tengah ketidakpastian pasar global.
Sebagian utang tersebut, sekitar Rp154,5 triliun, berasal dari skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia saat pandemi COVID-19.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah diperkirakan akan melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar, meski langkah tersebut tetap mengandung risiko.
Kurs JISDOR Ikut Melemah
Sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.179 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.142.
Kombinasi tekanan global dan domestik membuat rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan negosiasi geopolitik serta langkah kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.