finnews.id – Korea Utara (Korut) menghormati keputusan Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Spiritual yang baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Korut juga menentang keinginan Presiden AS Donald Trump untuk ikut campur dalam menentukan siapa yang akan memimpin Iran.
Pada akhir pekan lalu, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei menggantikan Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan udara Israel pada 28 Februari.
“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pyongyang yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Rabu, 11 Maret 2026.
Korut juga menuding Amerika Serikat dan Israel merusak perdamaian regional. Pyongyang mengutuk serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai “tindakan agresi ilegal”.
Pejabat tersebut mengatakan, AS dan Israel telah menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional dan meningkatkan ketidakstabilan di seluruh dunia.
Juru bicara tersebut menuduh Washington dan Israel melanggar “sistem politik dan integritas teritorial” Iran, dan berupaya “menggulingkan sistem sosialnya”.
“Tindakan tersebut “pantas mendapat kritik dan penolakan dari seluruh dunia karena tidak dapat ditoleransi,” tambah pejabat itu.
Selama beberapa dekade terakhir, AS telah memimpin upaya untuk membongkar program nuklir Korea Utara. Namun, pertemuan puncak, sanksi, dan tekanan diplomatik hanya berdampak kecil.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump telah mendorong untuk menghidupkan kembali pembicaraan tingkat tinggi dengan Pyongyang, dengan harapan dapat mengadakan pertemuan puncak antara Trump dan Kim Jong Un.
Trump mengatakan selama perjalanannya ke Asia pada bulan Oktober bahwa ia “100 persen” terbuka untuk bertemu dengan Kim, sebuah pernyataan yang tidak dijawab oleh Korea Utara.