Home Ekonomi Purbaya: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Anggaran Berpotensi Defisit
Ekonomi

Purbaya: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Anggaran Berpotensi Defisit

Bocoran Menkeu Purbaya

Bagikan
Menkeu Purbaya
Bagikan

finnews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) sempat melemah -0,6% ke level 17.015 pada Senin (9/3/2026) pagi, sebelum ditutup di level 16.945 (-0,2%).

Melemahnya nilai tukar rupiah ini ditekan oleh lonjakan harga minyak di tengah konflik AS–Iran, yang menyebabkan kekhawatiran terkait pelebaran defisit fiskal seiring status Indonesia sebagai net importir minyak.

Harga minyak Brent sempat melonjak +28,9% ke kisaran USD119,5 per barrel pada perdagangan intraday hari Senin (9/3/2026).

 

Hal ini menandai level tertinggi sejak 30 Juni 2022, sebelum bergerak di kisaran USD102,6 per barrel pada sore hari.

Harga minyak di level USD102,6per barrel sendiri lebih tinggi +46,6 persen dibandingkan asumsi makroekonomi APBN 2026 di level USD70 per barrel.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada pekan lalu bahwa jika pemerintah tidak menyesuaikan ulang anggaran belanja serta harga minyak naik dan bertahan di kisaran USD90–92 per barrel, maka APBN 2026 dapat defisit hingga 3,6 persen terhadap PDB — melampaui limit legal di 3% terhadap PDB.

 

Purbaya pada Senin (9/3/2026) juga turut mengungkapkan bahwa pemerintah akan menyerap guncangan akibat kenaikan harga minyak menggunakan APBN, dengan alokasi anggaran untuk membayar subsidi BBM akan meningkat bergantung pada besaran kenaikan harga minyak dan berapa lama harga tersebut tetap tinggi.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah akan menilai situasi dalam 1 bulan ke depan untuk merumuskan respons kebijakan yang tepat.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pasokan bahan bakar di Indonesia mencukupi dan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi setidaknya hingga Idulfitri.

 

Selain karena kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah belakangan ini juga ditekan oleh kekhawatiran terkait kondisi fiskal Indonesia secara umum.

Kementerian Keuangan mencatat bahwa realisasi APBN per akhir Februari 2026 telah mengalami defisit Rp135,7 T atau 0,53% terhadap PDB (vs. 2M25: defisit 0,13% terhadap PDB, target 2026: defisit 2,68% terhadap PDB), dengan defisit keseimbangan primer Rp35,9 T.

Bagikan
Artikel Terkait
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Ekonomi

Lampu Hijau Ekonomi! Sektor Manufaktur RI Ngamuk di Awal 2026, Siap-Siap Kebanjiran Pesanan?

finnews.id – Kabar gembira buat kamu yang sedang memantau ekonomi nasional! Sektor...

Bank Indonesia catat kinerja dunia usaha Triwulan I 2026 tetap tangguh! SBT tembus 10,11%, sektor pertanian & tambang siap melesat di triwulan depan.
Ekonomi

Jangan Sampai Ketinggalan! Dunia Usaha RI 2026 Masih On Track, Sektor-Sektor Ini Bakal Cuan Gede?

finnews.id – Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan tajinya di awal tahun ini! Bank...

Ekonomi

Katalog Promo Superindo Hari Ini 17 April 2026: Diskon Bahan Segar, Pas untuk Stok Dapur

finnews.id – Jaringan swalayan Superindo kembali memanjakan para pelanggan setianya dengan menggelar...

Ekonomi

Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran

finnews.id – Industri perhotelan nasional tengah menghadapi tekanan serius. Indonesian Hotel General Manager...