Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.

Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: “Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja”. Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: “saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?” “Cukup,” jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan,” pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat”.

Saya berusaha memohon dengan alasan bahwa saya sudah sejak pagi di sini, tetap tidak bisa. Puji Tuhan, beliau tidak marah, kebetulan ada bagian dari form aplikasi yang belum diisi dan harus dilengkapi. Beliau berkata “kita cari meja”, maka meja resto Rice Bowl yang ada di gedung tersebut yang kami manfaatkan. Tentu bukan sekadar untuk menulis tapi beliau juga memesan salah satu pilihan menu yang tersedia di meja, mie ayam dan orange juice. Beliau juga bertanya menu apa yang saya pilih, saya menjawab, “sama”.

Tidak mungkin saya memilih menu yang berbeda apalagi menu yang lebih mahal dari pesanan seorang yang mengajak makan, tidak sopan rasanya. Lebih tidak sopan, ternyata saya tidak mampu menghabiskan porsi mie ayam dan orange juice saya. Beliau bertanya, “mengapa tidak dihabiskan?” Tentu saja saya merasa canggung, gugup, tidak pernah terpikirkan harus makan satu meja dengan seorang pimpinan. Tapi bukan itu jawaban saya, melainkan, “masih kenyang”. Saat hendak menulis di form aplikasi yang belum lengkap tadi, terlihat beliau menelepon putrinya –Mbak Isna lalu menelepon juga menantunya –Mbak Ivo untuk menanyakan suatu istilah “pengundang” dalam bahasa Inggris. Ketika tiba waktunya membayar, saya sengaja menjauh dari meja kasir sambil bersiaga jika mungkin dibutuhkan, sebab biasanya beliau tidak membawa uang. Ternyata membawa, he he.