Saya pun teringat kepada seorang Oma Ambon bernama Margaretha Latulette. Biasa disapa dengan sebutan Oma Itha. Beliau berasal dari Pulau Buano meskipun sekarang menetap di kota Ambon. Mengenal beliau ketika kami sama-sama mengantar cucu sekolah. Sambil menunggu jam belajar selesai, kami mengobrol tentang banyak hal, utamanya tentang makanan khas, tradisi, dan budaya Maluku.

Dari Oma Itha, saya menjadi tahu, adanya kisah persaudaraan 3 negeri (kampung) 1 gandong di Maluku “Buano Oma Ullath”. Negeri Buano di pulau Buano, negeri Oma di Pulau Haruku, dan negeri Ullath di pulau Saparua. Pela dan gandong, prinsip hidup yang terus ditanamkan di tanah Maluku, dan ungkapan sagu salempeng patah dua, yang bermakna persaudaraan yang erat, prinsip untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, juga saya ketahui dari Oma Itha.

Oma yang baik hati ini, ditinggal sang suami di usia 35 tahun. Berpulang dan tidak ditemukan jasadnya. Saat itu bertepatan dengan kerusuhan besar yang sedang terjadi di Maluku. Oma Itha tetap sendiri, membesarkan kedua anaknyi hingga kini telah menjadi Oma bagi keempat cucunyi. Entah mengapa, di perjumpaan pertama, kami bisa langsung akrab. Mungkin karena kami seumuran, juga sesama pensiunan. Bedanya beliau mantan PNS, tiap bulan masih terima transfer-an, he he.

Kunjungannyi ke Depok, karena diminta oleh putranyi agar bisa merayakan Natal bersama sang Mama. Maka di tahun baru yang lalu, Oma Itha sudah pulang ke Ambon. Tinggal kembali bersama Ibundanyi yang sudah berusia 88 tahun dan adik laki-lakinyi yang memerlukan pendampingan dari Oma Itha akibat sakit serius yang dideritanya.

Setelah kepulangan Oma Itha ke Ambon, saya tidak merasa sepi, masih ada Oma-Oma lainnya yang saya sebut dengan julukan Oma super, Oma hebat, Oma keren. Mendengarkan cerita mereka, membuat waktu menunggu tidak terasa jenuh.

Meskipun sudah terpisah jarak dengan Oma Itha, kami tetap berteman. Via Facebook, beliau selalu membagikan aktivitasnyi sehari-hari, mendampingi sang Mama sekaligus merawat sang adik.