Oleh: Dahlan Iskan
“Sudah waktunya tukang kritik melakukan perbaikan dari dalam”.
Itu saya ucapkan padanyi saat Nanik S. Deyang dilantik untuk jabatan setingkat wakil menteri: wakil kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
“Doanya ya, Boss…,” jawabnyi pendek –sejak lama dia panggil saya bos.
Kemarin Deyang naik jabatan: menjadi ketua BGN –setingkat menteri– menggantikan Dadan Hindayana. Tidak ada penjelasan rinci mengapa Dadan diganti. Tapi, rasanya, Anda sudah tahu, pun sebelum diberi tahu: begitu banyak kritik untuk BGN –utamanya soal kualitas makanan dan cara ia berkomunikasi dengan medsos.
Soal persentase yang keracunan, misalnya, yang ia ucapkan tidak salah. Tapi kurang pas untuk medsos masa kini. Demikian juga soal siapa saja yang dapat izin buka dapur MBG. Yang perlu dipuji dari Dadan adalah: kecepatannya mengembalikan dana yang tidak terpakai ke kas negara.
Saya bukan bos Deyang. Hanya saja, ketika dia menjadi wartawan dia sering mewawancarai saya, khususnya soal sepak bola. Dia wartawan yang amat militan. Tidak takut risiko apa pun. Atasannyi, katanyi, hanya Tuhan. Kalau sudah memuncak dia pilih salat malam lebih lama. Kalau dibentak, Deyang balas membentak. Dia wartawan Harian Surya, Surabaya, salah satu anggota kelompok Kompas Gramedia.
Bos Deyang yang sebenar-benar bos adalah pimpinan Surya kala itu: Valens Doy –wartawan olahraga terkemuka Kompas. Valens, orang Flores yang halusnya mengalahkan orang Jawa, punya prinsip independen yang konsisten.
Oleh Kompas, Valens ditugaskan memimpin Harian Surya. Di Surya Deyang begitu sering mendapatkan berita besar yang eksklusif –sampai namanyi diperhatikan khusus oleh koran yang disainginya.
Deyang juga tipe anti birokrasi, anti kemapanan, dan anti hirarki. Setelah Vallens tidak lagi di Harian Surya, Deyang ikut berhenti. Dia coba bikin koran sendiri. Awalnya dengan Valens. Lalu pernah juga bersama saya.
Deyang tipe pemberontak. Termasuk “berontak” kepada Jokowi. Awalnya Deyang adalah salah satu tokoh militan di belakang Jokowi. Dia rela mengorbankan uangnyi yang tidak banyak itu untuk biaya kampanye agar Jokowi jadi presiden –dengan harapan jangan sampai berutang budi kepada donatur besar.