Dalam perjalanannya Deyang kecewa sejak Jokowi masih di masa jabatan pertama. Dia sudah langsung pindah perahu: mendukung Prabowo Subianto. Pun ketika Prabowo kalah dia tidak patah semangat. Dia berjuang lagi untuk memenangkan Prabowo –tanpa ada keinginan untuk mendapatkan apa pun.
Ketika akhirnya diangkat jadi wakil ketua BGN rasanya sudah waktunya orang yang penuh pengorbanan seperti Deyang dapat perhatian.
Selama dia menjabat di BGN saya dengar Deyang tidak berubah prinsip: dia muter terus ke lapangan. Dia cek apa yang disuarakan media tentang Makan Bergizi Gratis.
“Banyak sekali dapur MBG yang dia tutup,” komentar Wakil Ketua DPR Don Dasco (Sufmi Dasco Ahmad, Red).
Setahun setelah dia menjabat saya baru dapat kesempatan bertemu Deyang. Sekilas. Di acara seminar keselamatan kerja yang diadakan Pertamina. Saya di atas panggung. Dia di meja undangan VIP bersama Raden Ayu Inge Sondaryani sebagai sesama komisaris Pertamina. Saya bersyukur melihat Deyang: berat badannyi sudah turun banyak.
Saya lebih tertarik pada pemberhentian Dadan daripada pengangkatan Deyang. Ini kali kedua Presiden Prabowo memberhentikan teman dekatnya.
Anda sudah tahu siapa teman dekatnya yang pertama yang diberhentikan: Jenderal Agus Sutomo. Hubungan pertemanannya dengan Agus lebih istimewa daripada dengan Dadan. Agus teman seangkatan di Akabri tahun 1984. Sama-sama Kopassus. Sama-sama pernah jadi danjen Kopassus pula.
Saking karibnya Agus yang sudah pensiun dengan pangkat letnan jendral dinaikkan menjadi jendral bintang empat saat Prabowo jadi presiden.
Prabowo lantas mengangkat Agus sebagai dirut PT Agrinas Palma Nusantara –jelmaan dari BUMN Indra Karya. Bidang usahanya berubah dari konstruksi menjadi perkebunan sawit. Agrinas Palma-lah yang menampung kebun-kebun sawit yang disita pemerintah –yang total luasnya mencapai dua juta hektare lebih.
Hanya satu tahun Agus menjabat dirut. Agus lantas digantikan Abdul Ghani dari Danantara. Ghani pernah menjabat Dirut PTPN III yang belakangan menjabat bagian perkebunan di Danantara.