“Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.” katanya.

Selain itu, teknologi seperti environmental DNA (eDNA) bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal.

2. Penangkapan yang Lebih Terarah

Penangkapan tetap diperlukan, terutama saat populasi sudah tinggi. Namun, metode ini harus dilakukan secara selektif dan sistematis.

Penangkapan ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dinilai lebih efektif dalam menekan jumlah populasi.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” lanjutnya.

Pelibatan masyarakat melalui perburuan berbasis komunitas juga dapat membantu dalam skala lokal.

3. Kontrol Biologis dengan Predator Alami

Pendekatan ketiga adalah memanfaatkan predator alami seperti ikan baung dan betutu. Meski begitu, metode ini hanya efektif untuk ikan sapu-sapu pada fase juvenil berukuran kecil.

Tidak Disarankan untuk Konsumsi

Selain pengendalian, pemanfaatan ikan sapu-sapu juga sempat menjadi opsi. Namun, Charles mengingatkan bahwa ikan ini tidak aman untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegasnya.