finnews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Indonesia. BMKG memprediksi musim kemarau pada tahun 2026 akan tiba lebih awal dan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang dari biasanya.
Kepala BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan potensi kemunculan anomali iklim di Samudera Pasifik. Berdasarkan data terbaru per Sabtu (11/4), Indonesia akan menghadapi transisi menuju kondisi El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang pada paruh kedua tahun ini. Peluang kemunculan fenomena ini cukup tinggi, yakni berkisar antara 50 hingga 80 persen.
Meskipun demikian, masyarakat tidak perlu terlalu panik mengenai potensi El Nino kategori sangat kuat. BMKG mencatat probabilitas terjadinya kondisi ekstrem tersebut masih relatif kecil, yakni di bawah 20 persen. Namun, durasi kemarau yang lebih lama tetap membawa ancaman serius, terutama bagi kesehatan masyarakat akibat paparan udara kering yang berlebihan.
Kondisi udara yang sangat kering bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata bagi fungsi organ tubuh. Udara kering dapat memicu berbagai masalah pernapasan akut, mulai dari asma hingga bronkitis. Selain itu, risiko dehidrasi meningkat tajam saat kelembapan udara menurun drastis.
Gejala umum yang sering muncul akibat cuaca ekstrem ini meliputi iritasi mata, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga bibir pecah-pecah. Dr. Josue Limage, MD, seorang spesialis kedokteran keluarga, menegaskan bahwa udara kering mengganggu mekanisme pertahanan alami tubuh.
“Udara kering membuat lendir di saluran pernapasan mengering. Padahal, lendir tersebut berfungsi penting untuk menjebak kuman dan virus. Jika fungsi ini hilang, risiko seseorang terserang flu dan infeksi saluran napas akan meningkat pesat,” ujar Dr. Limage.
Tak hanya menyerang pernapasan, musim kemarau panjang ini juga berpotensi merusak kesehatan kulit. Penguapan air yang cepat dari pori-pori kulit menyebabkan iritasi parah dan memperburuk kondisi eksim bagi penderitanya. Bahkan, dehidrasi tingkat lanjut akibat paparan udara kering secara terus-menerus dapat mengganggu sistem pencernaan, seperti memicu sembelit.
Lebih lanjut, perubahan cuaca yang ekstrem ini mampu menciptakan tekanan atau stres fisik pada tubuh manusia. Para ahli menyarankan agar masyarakat mulai meningkatkan konsumsi air putih dan menggunakan pelembap udara (humidifier) di dalam ruangan untuk menjaga kelembapan. Kewaspadaan dini menjadi kunci utama guna meminimalisir dampak kesehatan yang mungkin timbul selama periode kemarau panjang 2026 mendatang.