Meskipun terinspirasi oleh tokoh-tokoh kekerasan dan terpapar ideologi radikal melalui komunitas online, Densus 88 menegaskan pelaku tidak memiliki ideologi yang konsisten.

Ia hanya sekadar mempelajari dan mengikuti beberapa tindakan ekstremisme yang dilakukan oleh orang lain.

“Artinya tidak ada satu ideologi yang konsisten yang dia ikuti, di sini menunjukkan terduga pelaku hanya sekedar terinspirasi dan ada pola yang berurutan yang mereka posting di komunitas media sosialnya,” jelas Eka.

Kasus peledakan SMAN 72 ini menjadi peringatan mengerikan bagi kita semua tentang bahaya radikalisme di dunia maya. Khususnya di kalangan remaja.

Internet dan media sosial dapat menjadi sarang bagi penyebaran ideologi ekstremis dan memengaruhi remaja yang rentan untuk melakukan tindakan kekerasan.

“Ini juga menjadi ‘awareness’ (kesadaran) ke depan bagi kita terkait adanya kekerasan di dunia maya,” tutup Eka.