finnews.id – Kinerja sektor industri nasional kembali mendapat tekanan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026. Angka ini menandakan aktivitas industri berada dalam fase kontraksi, dipicu lonjakan biaya produksi dan melemahnya permintaan pasar.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kondisi ini mencerminkan tekanan serius yang tengah dihadapi sektor manufaktur.
Biaya Produksi Melonjak, Industri Terjepit
Yusuf menjelaskan, kenaikan tajam biaya input menjadi faktor utama penurunan PMI. Bahkan, biaya produksi industri disebut mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan ini tidak lepas dari gangguan rantai pasok global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Dampaknya langsung terasa, mulai dari kenaikan harga bahan baku, pasokan yang tersendat, hingga waktu pengiriman yang semakin lama,” ujarnya.
Permintaan Melemah, Produksi Ditahan
Di sisi lain, permintaan domestik yang mulai melambat semakin memperparah kondisi. Pelaku industri kini menghadapi dilema: biaya produksi naik, tetapi harga jual sulit dinaikkan karena daya beli melemah.
Situasi ini membuat banyak perusahaan memilih menahan produksi bahkan mengurangi output. Dampaknya pun tercermin langsung pada penurunan PMI manufaktur ke bawah level 50.
Ancaman Lebih Luas: Investasi hingga Tenaga Kerja
Jika kondisi ini terus berlanjut, Yusuf memperingatkan dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek ekonomi. Mulai dari turunnya utilisasi pabrik, melemahnya kepercayaan pelaku usaha, hingga tertahannya investasi baru.
Tak hanya itu, sektor ketenagakerjaan juga berpotensi terdampak akibat berkurangnya aktivitas produksi di industri.
Solusi: Insentif dan Penguatan Rantai Pasok
Untuk meredam tekanan, pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah strategis. Di antaranya dengan memberikan insentif bagi sektor terdampak serta menjaga biaya produksi tetap kompetitif.
Selain itu, penguatan rantai pasok domestik dan diversifikasi sumber bahan baku menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Jika kontraksi PMI terus berlanjut, dampaknya bisa cukup luas terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Yusuf.