finnews.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, belakangan ini belum berdampak langsung pada tarif tiket bus milik PO Agra Mas.
Perusahaan otobus tersebut memilih untuk tetap mempertahankan harga tiket penumpang, setidaknya untuk perjalanan saat ini.
Direktur Utama PO Agra Mas, David Ariawan mengatakan, keputusan ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang masih menjaga harga solar subsidi tetap stabil.
“Saat ini solar kan belum naik, artinya masih dipertahankan pemerintah untuk harganya bertahan,” kata David Ariawan kepada wartawan.
Selama komponen utama operasional tersebut tidak mengalami kenaikan, perusahaan masih mampu menahan biaya perjalanan bagi penumpang.
“Selama itu bisa dipertahankan harganya, saya pikir itu sudah cukup membantu,” ujarnya.
Menurutnya, harga bahan bakar memiliki peran besar dalam menentukan tarif transportasi darat.
Dalam kondisi normal, kenaikan BBM hampir selalu diikuti dengan penyesuaian harga tiket. Namun, situasi saat ini dinilai masih cukup kondusif sehingga penyesuaian belum diperlukan.
Ia juga menegaskan bahwa menaikkan tarif adalah opsi terakhir yang akan diambil, apabila biaya operasional benar-benar meningkat signifikan.
“Karena pada saat biasanya, kemarin-kemarin, tahun-tahun yang lalu, pada saat menaikan BBM itu tentunya ada kenaikan tarif,” jelasnya.
Selama masih memungkinkan, PO Agra Mas masih terus berusaha untuk tidak membebani penumpang dengan kenaikan harga.
“Itu sudah tidak bisa dihindari. Dengan adanya sekarang ini belum naik, kita masih bisa kurang lebih bertahan,” tuturnya.
Meski demikian, potensi kenaikan tarif tetap terbuka. Jika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga solar subsidi, hampir seluruh perusahaan otobus akan melakukan langkah serupa secara bersamaan.
“Pasti akan ada penyesuaian tarif, dan itu tidak cuma hanya PO kita. Itu semua PO-Bus akan rumusnya sama,” ucapnya.
Penyesuaian ini, biasanya mengikuti pola yang mirip antar operator bus. Dalam praktiknya, selisih harga antar perusahaan umumnya tidak terpaut jauh.
“Besarannya pun kurang lebih beda-beda sedikit, nanti pada saat tertentu itu akan sama. Di PO tertentu itu akan naik turun, akhirnya nanti sama. Ya, selisih Rp 10.000 sampai Rp 20.000,” terangnya.
Setelah fase penyesuaian awal, tarif cenderung kembali stabil dan berada pada kisaran yang hampir sama, dengan perbedaan yang relatif kecil.
Di sisi lain, pelaku usaha juga mempertimbangkan dampak terhadap daya beli masyarakat.
Kenaikan harga tiket berisiko menurunkan jumlah penumpang, terutama dalam beberapa bulan pertama setelah perubahan tarif diberlakukan.
Karena itu, menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan kemampuan konsumen menjadi hal yang krusial.
PO Agra Mas berharap agar harga solar tetap stabil, agar aktivitas bisnis transportasi tetap berjalan normal tanpa menekan masyarakat.