Home Market PASAR MODAL BERDARAH! IHSG Ambruk 2%, Rupiah Hancur Lebur ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah
Market

PASAR MODAL BERDARAH! IHSG Ambruk 2%, Rupiah Hancur Lebur ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah

Bagikan
IHSG hari ini melemah ke 7.528 akibat gagalnya damai AS-Iran. Harga minyak terbang ke USD90,5 dan Rupiah nyungsep ke Rp17.142 per Dolar AS.
Ilustrasi - IHSG
Bagikan

finnews.id – Kamis kelabu menghantam Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas ke zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026).

Sentimen ganda berupa “kiamat” Rupiah dan meroketnya harga minyak dunia menjadi kombo maut yang melumpuhkan pasar modal dalam negeri.

IHSG Longsor, Investor Panik!

IHSG terpantau babak belur setelah melemah 163 poin atau anjlok 2,16 persen ke level 7.378,61. Tak hanya indeks utama, kelompok saham unggulan LQ45 juga ikut tiarap, merosot 2,73 persen ke posisi 715,88.

Data menunjukkan kengerian di lantai bursa: sebanyak 505 saham bertumbangan, sementara hanya 192 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Rekor Terburuk Sepanjang Masa: Rupiah Tembus Rp17.300!

Pemicu utama kepanikan ini adalah nilai tukar Rupiah yang kian tak terkendali. Mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis yang mengerikan di angka Rp17.300 per dolar AS.

“Ini menjadi level penutupan terburuk bagi Rupiah sepanjang masa sekaligus pelemahan paling dalam di seluruh Asia,” tegas Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.

Meskipun Bank Indonesia (BI) telah berupaya menahan suku bunga (BI-Rate) untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut, tenaga Rupiah tetap loyo dihantam ketidakpastian global.

Ancaman Selat Hormuz & ‘Kiamat’ Energi

Kondisi dalam negeri kian terjepit akibat harga minyak mentah global yang membara. Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut memaksa harga energi tetap tinggi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, bahkan sudah memberikan alarm keras. Kenaikan harga minyak ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan hingga 1,3 persen dari PDB. Ketergantungan Indonesia pada impor energi kini menjadi bom waktu bagi APBN.

Sektor Konsumer Paling Menderita

Berdasarkan data IDX-IC, hampir seluruh sektor ambruk. Sektor barang konsumen non-primer menjadi korban paling parah dengan koreksi tajam 3,18 persen, disusul sektor industri dan teknologi. Hanya sektor transportasi & logistik yang berhasil “selamat” dan merangkak naik 2,42 persen.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Market

BEI Jatuhkan Sanksi ke 494 Emiten di Awal 2026, Ini Penyebabnya

finnews.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat telah menjatuhkan 845 sanksi kepada...

Market

Spesifikasi dan Daftar Harga Tumbler TUKU, Mulai Rp 200 Ribu hingga Ratusan Ribuan

finnews.id – Belakangan ini, nama tumbler dari brand kopi lokal TUKU menjadi...

Market

KAI Hentikan Perjalanan KA Siliwangi, Ini Fakta di Baliknya

finnews.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung resmi menghentikan...

Wall Street rekor, tapi Rupiah terburuk di dunia! Cek nasib IHSG Bursa Pagi 23 April 2026, dividen ASII, hingga manuver Prajogo Pangestu di BRPT.
Market

Bursa Pagi 23 April 2026: Wall Street Cetak Rekor Gila saat Rupiah Jadi Pecundang Dunia, Siap-Siap Serok Dividen ASII!

finnews.id – Pasar keuangan global sedang tidak baik-baik saja bagi mereka yang...