finnews.id – Kamis kelabu menghantam Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas ke zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026).
Sentimen ganda berupa “kiamat” Rupiah dan meroketnya harga minyak dunia menjadi kombo maut yang melumpuhkan pasar modal dalam negeri.
IHSG Longsor, Investor Panik!
IHSG terpantau babak belur setelah melemah 163 poin atau anjlok 2,16 persen ke level 7.378,61. Tak hanya indeks utama, kelompok saham unggulan LQ45 juga ikut tiarap, merosot 2,73 persen ke posisi 715,88.
Data menunjukkan kengerian di lantai bursa: sebanyak 505 saham bertumbangan, sementara hanya 192 saham yang mampu bertahan di zona hijau.
Rekor Terburuk Sepanjang Masa: Rupiah Tembus Rp17.300!
Pemicu utama kepanikan ini adalah nilai tukar Rupiah yang kian tak terkendali. Mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis yang mengerikan di angka Rp17.300 per dolar AS.
“Ini menjadi level penutupan terburuk bagi Rupiah sepanjang masa sekaligus pelemahan paling dalam di seluruh Asia,” tegas Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah berupaya menahan suku bunga (BI-Rate) untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut, tenaga Rupiah tetap loyo dihantam ketidakpastian global.
Ancaman Selat Hormuz & ‘Kiamat’ Energi
Kondisi dalam negeri kian terjepit akibat harga minyak mentah global yang membara. Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut memaksa harga energi tetap tinggi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, bahkan sudah memberikan alarm keras. Kenaikan harga minyak ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan hingga 1,3 persen dari PDB. Ketergantungan Indonesia pada impor energi kini menjadi bom waktu bagi APBN.
Sektor Konsumer Paling Menderita
Berdasarkan data IDX-IC, hampir seluruh sektor ambruk. Sektor barang konsumen non-primer menjadi korban paling parah dengan koreksi tajam 3,18 persen, disusul sektor industri dan teknologi. Hanya sektor transportasi & logistik yang berhasil “selamat” dan merangkak naik 2,42 persen.