finnews.id – Para pecinta astronomi di Indonesia bersiaplah. Fenomena hujan meteor Lyrids akan kembali menyapa penduduk Bumi pada April 2026. Fenomena ini bukan sekadar pemandangan indah biasa, melainkan salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan manusia.
Lyrids menawarkan pertunjukan cahaya alami yang berasal dari puing-puing Komet C/1861 G1 atau yang lebih populer dengan nama Komet Thatcher. Mengutip laporan Live Science, komet ini memiliki orbit yang sangat panjang, yakni mencapai 415,5 tahun untuk sekali mengitari Matahari.
Jejak Debu Komet Thatcher
Meskipun Komet Thatcher terakhir kali melintasi tata surya bagian dalam pada 1861, ia meninggalkan jejak debu dan partikel yang abadi di jalur orbitnya. Para ahli memperkirakan komet ini baru akan kembali mendekat ke Matahari pada tahun 2276 mendatang.
Namun, penduduk Bumi tidak perlu menunggu ratusan tahun untuk melihat sisa-sisanya. Setiap kali planet kita melintasi jalur sisa material komet tersebut, partikel-partikel kecil akan menabrak atmosfer Bumi. Gesekan yang terjadi menciptakan energi panas luar biasa hingga partikel tersebut terbakar, sehingga menghasilkan kilatan cahaya yang kita kenal sebagai “bintang jatuh”.
Jadwal dan Waktu Terbaik di Indonesia
Pada tahun 2026, hujan meteor Lyrids akan mencapai puncaknya pada malam 22 April hingga dini hari 23 April. Data dari laman In the Sky menunjukkan bahwa aktivitas meteor mulai meningkat secara signifikan sejak larut malam. Namun, intensitas terbaik baru akan terlihat setelah tengah malam hingga menjelang fajar menyingsing.
Khusus untuk wilayah Indonesia, pengamat memiliki jendela waktu yang cukup ideal. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Matahari di Jakarta diperkirakan terbit sekitar pukul 05.53 WIB pada periode tersebut. Oleh karena itu, waktu paling efektif untuk berburu meteor adalah mulai pukul 02.00 WIB hingga sebelum fajar.
Pada jam-jam tersebut, posisi titik radian (titik asal meteor) sudah berada cukup tinggi di langit. Kondisi ini memberikan peluang lebih besar bagi pengamat untuk menangkap kilatan cahaya yang melesat dengan jelas.
Tips Mengamati Lyrids
Dalam kondisi langit yang benar-benar cerah dan minim polusi cahaya, Lyrids mampu menghasilkan sekitar 18 hingga 20 meteor per jam. Anda tidak memerlukan alat bantu optik canggih seperti teleskop atau binokular untuk menikmati fenomena ini.
Cukup cari lokasi yang lapang, jauh dari lampu perkotaan, dan biarkan mata Anda beradaptasi dengan kegelapan selama 20-30 menit. Dengan sedikit kesabaran, Anda bisa menyaksikan keajaiban kosmik ini secara langsung dengan mata telanjang. Pastikan cuaca mendukung agar awan mendung tidak menghalangi pandangan Anda ke cakrawala. (*).