Home Market Harga Minyak Meledak 3 Persen! Ancaman Perang AS-Iran Makin Nyata, Selat Hormuz Siap Lumpuh Total?
Market

Harga Minyak Meledak 3 Persen! Ancaman Perang AS-Iran Makin Nyata, Selat Hormuz Siap Lumpuh Total?

Bagikan
Harga minyak dunia melonjak 3% akibat ancaman militer Trump ke Iran. Stok global terancam hilang 1,5 miliar barel jika Selat Hormuz tetap lumpuh!
Ilustrasi - Platform Minyak lepas Pantai (Pexels - Bayu Prakosa)
Bagikan

finnews.id – Pasar energi dunia sedang kebakaran! Kamu yang sering bepergian menggunakan kendaraan pribadi harus bersiap-siap karena harga minyak mentah baru saja melesat tajam sekitar 3 persen. Gejolak ini pecah akibat ketidakpastian tingkat tinggi menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi di Timur Tengah yang kian mendidih membuat para pelaku pasar mulai panik dan berebut mengamankan pasokan.

Harga minyak dunia ini melonjak drastis tepat sehari sebelum batas waktu negosiasi damai berakhir. Ketidakjelasan Iran untuk ikut serta dalam pembicaraan di Islamabad menjadi pemicu utama kenapa harga emas hitam ini terbang tinggi. Bayangkan saja, nasib pasokan energi global kini bergantung pada sebuah meja perundingan yang masih penuh tanda tanya.

Trump Siapkan Militer, Harga Brent dan WTI Melambung Tinggi

Presiden AS Donald Trump memang menyatakan harapannya untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, ia juga memberikan peringatan keras yang bikin pasar bergetar: Trump tidak berniat memperpanjang gencatan senjata! Jika negosiasi gagal total pekan ini, militer Amerika Serikat menyatakan siap bertindak. Gertakan ini langsung membuat harga minyak mentah berjangka Brent ditutup melesat USD3 atau 3,1 persen menjadi USD98,48 per barel.

Tak mau ketinggalan, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), juga melompat USD2,52 atau 2,8 persen ke posisi USD92,13 per barel. Bahkan, harga sempat menyentuh kenaikan hingga 5 persen di awal sesi perdagangan. Volatilitas gila-gilaan ini terjadi setelah laporan menyebutkan delegasi Amerika yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance belum juga berangkat ke lokasi perundingan hingga tengah hari Selasa.

Selat Hormuz Lumpuh: Pasokan Global Terancam Hilang Miliaran Barel

Ketakutan terbesar para investor saat ini adalah macetnya jalur strategis Strait of Hormuz. Jalur vital ini biasanya menangani sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Tapi faktanya sekarang sangat mengerikan: data terbaru menunjukkan hanya ada tiga kapal yang berani melintas dalam 24 jam terakhir! Jika jalur nadi ini benar-benar buntu, krisis energi skala global bukan lagi sekadar prediksi, tapi ancaman nyata.

Kepala Ekonom Trafigura, Saad Rahim, memberikan peringatan yang sangat serius. Ia menyebutkan bahwa dunia bisa kehilangan hingga satu miliar barel minyak mentah meskipun konflik segera berakhir. Angka kerugian pasokan ini bisa membengkak menjadi 1,5 miliar barel jika kebuntuan diplomatik berlarut hingga satu bulan. Situasi ini tentu akan menekan ketersediaan energi di pasar internasional dan mendorong harga ke level yang jauh lebih ekstrem.

Efek Domino: Dari Langit Eropa Hingga SPBU Amerika

Dampak perang Iran ini mulai merembet ke segala sektor. Uni Eropa bahkan mulai menyiapkan panduan darurat bagi maskapai penerbangan untuk mengelola slot bandara dan hak penumpang jika terjadi kelangkaan bahan bakar jet. Meski Menteri Ekonomi Jerman, Katherina Reiche, mengklaim pasokan avtur masih aman berkat adaptasi kilang minyak, pemerintah tetap dalam mode siaga satu memantau setiap pergerakan di Timur Tengah.

Di Amerika Serikat sendiri, masyarakat mulai merasakan imbasnya di dompet mereka. Penjualan ritel bulan Maret meningkat tajam melewati ekspektasi, namun penyebabnya sangat miris: lonjakan harga bahan bakar di stasiun pengisian (SPBU) memaksa warga merogoh kocek lebih dalam. Rekor penerimaan di stasiun pengisian bahan bakar menjadi bukti nyata bahwa perang di belahan dunia lain berdampak langsung pada biaya hidup harian masyarakat.

Menanti Data Stok Minyak: Akankah Harga Terus Meroket?

Kini, semua mata tertuju pada laporan cadangan mingguan dari American Petroleum Institute dan Energy Information Administration. Para analis memprediksi perusahaan energi akan menarik sekitar 1,2 juta barel minyak mentah dari cadangan mereka. Jika penarikan stok ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi kali pertama terjadi penurunan cadangan dalam dua pekan berturut-turut sejak Februari lalu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu. Penipisan cadangan di tengah ancaman militer Trump dan kelumpuhan Selat Hormuz menjadi kombinasi maut yang bisa terus melambungkan harga minyak dunia. Untuk kamu yang peduli dengan stabilitas ekonomi, pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan adalah indikator krusial yang tidak boleh kamu lewatkan! (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Ilustrasi Saham ESG Terbaik 2026 (bakerinstitute)
Market

Daftar Saham ESG Terbaik 2026: Investasi Cuan Sekaligus Berdampak Positif

finnews.id – Saham ESG terbaik adalah perusahaan yang tidak hanya kuat secara finansial,...

IHSG hari ini melemah ke 7.528 akibat gagalnya damai AS-Iran. Harga minyak terbang ke USD90,5 dan Rupiah nyungsep ke Rp17.142 per Dolar AS.
Market

Gawat! IHSG Hari Ini Nyungsep ke Zona Merah, Perdamaian AS-Iran Kabur Bikin Harga Minyak Dunia Meledak

finnews.id – Kabar kurang sedap kembali menghantam pasar modal Indonesia pagi ini....

Laba ANTM diprediksi meroket 172% pada 1Q26 akibat harga nikel dan emas yang melambung.
Market

Gawat! Harga Nikel Dunia Terbang Tinggi, Saham ANTM Diramal Bakal Kasih Kejutan Cuan Paling Gila!

finnews.id – Pernahkah kamu membayangkan harga nikel dan emas meroket bersamaan tepat...

Market

Harga Bitcoin Hari Ini Merosot ke Rp1,29 Miliar, Gara-gara Sanksi AS ke Iran

finnews.id – Pasar aset kripto kembali terjebak dalam zona merah pada perdagangan...