Home Market Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen! Blokade AS dan Ancaman Balas Dendam Iran Siap Bikin Kantong Jebol
Market

Harga Minyak Dunia Meledak 6 Persen! Blokade AS dan Ancaman Balas Dendam Iran Siap Bikin Kantong Jebol

Bagikan
Harga minyak mentah dunia melonjak 6% akibat ketegangan blokade AS dan ancaman Iran di Selat Hormuz
Harga minyak mentah dunia melonjak 6% akibat ketegangan blokade AS dan ancaman Iran di Selat Hormuz
Bagikan

finnews.id – Dunia energi sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencapai titik didih yang membuat pasar global bergejolak hebat. Setelah sempat muncul secercah harapan damai, situasi justru berbalik arah 180 derajat. Harga minyak mentah dunia langsung melesat tajam pada perdagangan Senin, memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih dalam.

Laporan terbaru menunjukkan harga minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup melonjak drastis sebesar 5,64 persen atau naik USD5,10 menjadi USD95,48 per barel. Tak mau ketinggalan, patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), bahkan melambung lebih tinggi hingga 6,87 persen atau bertambah USD5,76 ke posisi USD89,61 per barel. Kenaikan gila-gilaan ini terjadi hanya dalam kurun waktu satu malam, menghapus semua optimisme yang sempat terbangun pekan lalu.

Drama Selat Hormuz: Dari Gencatan Senjata Jadi Medan Konflik

Mengapa harga minyak bisa terbang setinggi itu? Jawabannya ada pada eskalasi konflik di Selat Hormuz, jalur nadi perdagangan minyak dunia. Pada Jumat lalu, pasar sebenarnya sempat bernapas lega setelah Iran menyatakan jalur pelayaran komersial tetap buka selama gencatan senjata. Saat itu, harga minyak bahkan sempat anjlok hingga 9 persen, penurunan harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, harapan itu pupus seketika pada akhir pekan. Amerika Serikat secara mengejutkan menyita sebuah kapal kargo milik Iran yang dituding berupaya menembus blokade. Teheran tidak tinggal diam dan langsung melontarkan ancaman pembalasan yang sangat serius. “Niat baik yang tercipta pada Jumat telah sepenuhnya lenyap,” tegas Bob Yawger, Direktur Mizuho, menggambarkan betapa rapuhnya situasi diplomatik saat ini.

Nasib Perundingan Damai di Ujung Tanduk

Situasi ini jelas menjadi kabar buruk bagi proses perdamaian. Gencatan senjata dua minggu yang dijadwalkan berakhir pekan ini diprediksi tidak akan berlanjut. Rencana pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan Iran di Pakistan pun kini berada dalam ketidakpastian total. Pejabat senior di Teheran mengaku pihaknya masih menimbang-nimbang apakah akan tetap ikut serta atau menarik diri sepenuhnya dari meja perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah menyampaikan protes keras kepada mitranya dari Pakistan. Ia menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat menjadi hambatan utama bagi kelanjutan proses diplomatik. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru memberikan sinyal keras bahwa blokade terhadap Iran akan tetap diberlakukan, tanpa jaminan perpanjangan gencatan senjata. Sikap saling kunci ini membuat pasar spekulasi bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Pasokan Energi Global Nyaris Terhenti

Dampak nyata dari ketegangan ini terlihat jelas pada arus distribusi energi. Data pelayaran menunjukkan bahwa Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia, kini nyaris lumpuh total. Dalam 12 jam terakhir, tercatat hanya ada tiga kapal yang berani melintas. Padahal, pada Sabtu sebelumnya, aktivitas pelayaran sempat menggeliat dengan lebih dari 20 kapal yang mengangkut berbagai komoditas penting seperti gas petroleum cair, logam, hingga pupuk.

Nikos Tzabouras, market analyst dari Tradu, menilai bahwa kondisi “blokade ganda” ini akan terus menekan harga minyak ke level yang lebih tinggi. Meskipun nantinya kesepakatan damai berhasil tercapai secara mendadak, pemulihan pasokan tidak bisa terjadi dalam semalam. Infrastruktur logistik yang terganggu membutuhkan waktu untuk kembali normal, sehingga harga minyak kemungkinan besar akan tetap bertengger di level tinggi dalam jangka menengah.

Akankah Harga Minyak Terus Meroket?

Meski kenaikan saat ini sangat signifikan, sejumlah pengamat mencoba tetap tenang. Bob Yawger mencatat bahwa level harga saat ini sebenarnya masih berada di bawah puncak tertinggi yang pernah tercapai pada awal konflik. Selama perang skala penuh tidak pecah, kenaikan harga diperkirakan akan mulai stabil secara bertahap.

Namun bagi konsumen global, lonjakan 6 persen ini adalah peringatan keras. Ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang mendikte harga bensin dan biaya energi di seluruh dunia. Publik kini hanya bisa menunggu apakah diplomasi masih punya ruang, ataukah ego kedua negara akan benar-benar memicu krisis energi global yang tidak terhindarkan. (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Laba Astra Otoparts (AUTO) melonjak 10,5% jadi Rp558,95 miliar di Kuartal I-2026! Cek jadwal dividen final Rp170/saham dan harga saham terbarunya di sini.
Market

Astra Otoparts (AUTO) Cetak Laba Jumbo di Kuartal I-2026! Saham Melejit, Siap-siap Guyuran Dividen Final

finnews.id – Kabar gembira buat kamu para investor pemburu cuan dari grup...

Bursa Asia menghijau setelah sinyal damai AS-Iran di Pakistan. Harga minyak WTI rontok di bawah USD86
Market

Bursa Asia Membara! Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Rontok, Waktunya Borong Saham?

finnews.id – Selamat pagi, teman-teman investor! Ada kabar super penting yang wajib...

Hati-hati! Arus dana rekor di obligasi justru jadi sinyal bahaya. Analisis kontrarian tunjukkan saham berpotensi lebih unggul sepanjang 2026 ini.
Market

Pasar Obligasi 2026 dalam Bahaya? Jangan Terjebak! Sinyal Kontrarian Ungkap Saham Lebih Menjanjikan

finnews.id – Pernahkah Anda mendengar istilah “beli saat semua orang takut, dan...

IHSG hari ini dibuka melemah ke 7.560 akibat ketegangan AS-Iran. Harga minyak dunia melonjak dan asing net sell Rp2,3 T.
Market

IHSG Hari Ini Kebakaran! Ketegangan AS-Iran Memanas, Investor Kabur Tinggalkan Bursa

finnews.id – Pasar modal Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Indeks Harga Saham...