Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah menyampaikan protes keras kepada mitranya dari Pakistan. Ia menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat menjadi hambatan utama bagi kelanjutan proses diplomatik. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru memberikan sinyal keras bahwa blokade terhadap Iran akan tetap diberlakukan, tanpa jaminan perpanjangan gencatan senjata. Sikap saling kunci ini membuat pasar spekulasi bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Pasokan Energi Global Nyaris Terhenti
Dampak nyata dari ketegangan ini terlihat jelas pada arus distribusi energi. Data pelayaran menunjukkan bahwa Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia, kini nyaris lumpuh total. Dalam 12 jam terakhir, tercatat hanya ada tiga kapal yang berani melintas. Padahal, pada Sabtu sebelumnya, aktivitas pelayaran sempat menggeliat dengan lebih dari 20 kapal yang mengangkut berbagai komoditas penting seperti gas petroleum cair, logam, hingga pupuk.
Nikos Tzabouras, market analyst dari Tradu, menilai bahwa kondisi “blokade ganda” ini akan terus menekan harga minyak ke level yang lebih tinggi. Meskipun nantinya kesepakatan damai berhasil tercapai secara mendadak, pemulihan pasokan tidak bisa terjadi dalam semalam. Infrastruktur logistik yang terganggu membutuhkan waktu untuk kembali normal, sehingga harga minyak kemungkinan besar akan tetap bertengger di level tinggi dalam jangka menengah.
Akankah Harga Minyak Terus Meroket?
Meski kenaikan saat ini sangat signifikan, sejumlah pengamat mencoba tetap tenang. Bob Yawger mencatat bahwa level harga saat ini sebenarnya masih berada di bawah puncak tertinggi yang pernah tercapai pada awal konflik. Selama perang skala penuh tidak pecah, kenaikan harga diperkirakan akan mulai stabil secara bertahap.
Namun bagi konsumen global, lonjakan 6 persen ini adalah peringatan keras. Ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang mendikte harga bensin dan biaya energi di seluruh dunia. Publik kini hanya bisa menunggu apakah diplomasi masih punya ruang, ataukah ego kedua negara akan benar-benar memicu krisis energi global yang tidak terhindarkan. (*)