finnews.id – Kabar kurang sedap kembali menghantam pasar modal Indonesia pagi ini. Kamu yang sedang memantau pergerakan saham harus ekstra waspada karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja membuka perdagangan dengan rapor merah. Pada Rabu (22/4/2026), IHSG terperosok ke level 7.528, turun sekitar 31 poin dibandingkan penutupan kemarin yang juga sudah lesu. Sepertinya, awan mendung dari konflik global masih enggan beranjak dari langit bursa kita.
Hingga pukul 09.05 WIB, indeks kebanggaan kita masih berjuang di zona merah pada level 7.545, atau melemah 0,19 persen. Meski sempat mencoba bangkit ke level tertinggi 7.559, daya beli pasar nampaknya belum sanggup melawan sentimen negatif yang datang bertubi-tubi. Padahal, ada data menarik di mana investor asing justru melakukan aksi borong atau nett buy senilai Rp243,2 miliar. Pertanyaannya, apakah aksi beli asing ini cukup kuat untuk menahan kejatuhan lebih dalam?
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Langsung Terbang Tinggi
Kenapa sih bursa kita mendadak loyo? Ternyata, biang keroknya adalah memudarnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan gencatan senjata yang sudah berjalan dua minggu kini nasibnya semakin tidak jelas. Ketidakpastian ini membuat para investor di seluruh dunia panik dan langsung melarikan modalnya ke aset yang lebih aman.
Efek domino dari memanasnya tensi geopolitik ini langsung membakar harga komoditas energi. Harga minyak mentah dunia melesat tajam 3,5 persen hingga menyentuh angka USD90,5 per barel. Tak ketinggalan, harga batubara juga merangkak naik ke level USD132,9 per metrik ton. Di sisi lain, harga emas justru tertekan 1,72 persen. Situasi ini tentu bikin kamu yang punya portofolio di sektor energi harus terus memantau pergerakan harga komoditas setiap detik!
Rupiah Terkapar di Level Terendah Sejarah, Suku Bunga BI Jadi Tumpuan
Bukan cuma saham yang kena hantam, mata uang kebanggaan kita pun sedang dalam kondisi kritis. Rupiah terus melemah hingga menyentuh angka Rp17.142 per dolar AS, posisi terendah sepanjang sejarah! Strategi suku bunga tinggi atau higher for longer yang diterapkan The Fed membuat dolar AS semakin perkasa, memaksa investor lebih memilih menyimpan greenback daripada rupiah.