finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar logam mulia global. Harga emas hari ini terjerembap cukup dalam dan kehilangan kilaunya secara drastis. Bagi kamu yang sedang memantau portofolio investasi, siapkan mental karena harga emas baru saja terjun bebas hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan terakhir. Tekanan ganda dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi benar-benar menghantam aset aman ini tanpa ampun.
Harga emas spot merosot tajam sebesar 2,2 persen ke level USD4.712,04 per ons pada Rabu dini hari WIB. Tak jauh berbeda, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Juni juga ikut tumbang dengan penurunan mencapai 2,3 persen di posisi USD4.719,60 per ons. Penurunan gila-gilaan ini terjadi saat investor sedang harap-harap cemas menantikan hasil pembicaraan diplomatik tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran.
Dolar Perkasa dan Yield Obligasi Mencekik Emas
Mengapa harga emas anjlok begitu parah? Penyebab utamanya adalah keperkasaan dolar AS yang naik 0,2 persen terhadap mata uang utama dunia. Karena emas dihargai dalam dolar (greenback), penguatan mata uang Paman Sam ini otomatis membuat emas terasa jauh lebih mahal bagi para investor global. Akibatnya, permintaan pasar pun langsung menyusut drastis.
Selain faktor dolar, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury bertenor 10 tahun juga menjadi musuh utama emas hari ini. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga harian, emas kehilangan daya tariknya saat obligasi pemerintah mulai menawarkan hasil yang lebih menggiurkan. Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menegaskan bahwa kombinasi maut antara penguatan yield dan dolar inilah yang menjadi faktor utama penghancur harga emas di tengah pekan ini.
Trump Siap Tempur: Harga Minyak Meledak, Inflasi Mengintai
Situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras. Trump menegaskan tidak akan memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran. Bahkan, ia menyebut militer Amerika Serikat sudah dalam posisi siap bertindak jika meja negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Gertakan ini langsung membuat harga minyak mentah melesat lebih dari 3 persen.
Lonjakan harga minyak sejak konflik AS-Israel melawan Iran meletus pada Februari lalu memicu kekhawatiran baru soal inflasi global. Meskipun emas sering kita anggap sebagai pelindung nilai (hedging) terhadap inflasi, namun ancaman kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi tersebut justru menjadi sentimen negatif bagi emas. Investor kini mulai ragu bank sentral akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Waspada Volatilitas Tinggi Menjelang Sidang Kevin Warsh
Fokus dunia kini tertuju pada gedung parlemen AS untuk memantau sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Chairman Federal Reserve (The Fed). Kevin Warsh bukan sosok sembarangan; ia dikenal membawa ide-ide perubahan besar di tubuh bank sentral. Warsh menyerukan pendekatan baru yang lebih agresif dalam mengendalikan inflasi serta perombakan strategi komunikasimoneter yang dianggap terlalu terbuka.
Haberkorn memperingatkan bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut Warsh dalam sidang Senate Banking Committee akan menjadi penentu arah pasar. Pernyataan yang condong agresif atau hawkish berpotensi memicu volatilitas tinggi yang bisa kembali menekan harga emas lebih dalam lagi. Pelaku pasar kini cenderung memilih memegang uang tunai (cash) daripada aset risiko maupun logam mulia.
Perak dan Logam Lain Ikut Merosot Parah
Penurunan harga emas hari ini ternyata juga menyeret logam mulia lainnya ke zona merah. Berikut rincian penurunan harga logam lainnya yang juga mengalami “kebakaran”:
- Perak Spot: Merosot tajam 3,9 persen menjadi USD76,76 per ons.
- Platinum: Terjun 2,7 persen ke posisi USD2.033,37 per ons.
- Paladium: Melemah 0,6 persen ke angka USD1.541,56 per ons.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor sedang berada dalam mode waspada penuh. Ketidakpastian politik di Timur Tengah dan perubahan arah kebijakan moneter AS di bawah kepemimpinan baru the Fed akan terus menjadi motor penggerak volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan. (*)