finnews.id – Pasar keuangan global mendadak mencekam. Harga emas hari ini terpaksa bertekuk lutut setelah rentetan sentimen negatif menghantam dari berbagai penjuru. Jika Anda berencana memborong emas dalam waktu dekat, sebaiknya simak baik-baik kondisi terbaru ini. Pasalnya, kombinasi maut antara penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketegangan militer di Timur Tengah sukses membuat aset aman (safe haven) ini kehilangan daya tariknya.

Pada perdagangan Senin waktu setempat, kilau logam mulia ini terpantau memudar. Harga emas spot melorot 0,4 persen ke angka USD4.810,26 per ons. Bahkan, di awal sesi, emas sempat terjerembap ke level terendah sejak 13 April lalu. Tak hanya pasar spot, emas berjangka AS untuk kontrak Juni pun kena hantam lebih telak dengan koreksi mencapai 1 persen ke posisi USD4.828,8 per ons. Penurunan tajam ini menunjukkan betapa khawatirnya investor terhadap gejolak yang sedang terjadi.

Konflik AS-Iran Memanas, Dolar Jadi Pemenang

Mengapa harga emas turun justru saat dunia sedang tidak stabil? Biasanya, emas menjadi primadona saat perang berkecamuk. Namun, situasi kali ini berbeda. Ancaman balasan Iran terhadap penyitaan kapal kargo oleh Amerika Serikat justru memicu pelarian modal besar-besaran ke mata uang dolar AS. Indeks Dolar (DXY) langsung terbang ke titik tertinggi dalam sepekan terakhir.

Saat dolar perkasa, harga emas secara otomatis menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan pun menyusut. Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik ini juga memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 5 persen. Kondisi ini menciptakan efek domino yang justru menguatkan imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury) tenor 10 tahun. Bagi investor, memegang emas yang tidak memberikan bunga harian menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi saat imbal hasilnya sedang tinggi-tingginya.

Analisis Pakar: Risiko Minyak dan Inflasi Tekan Emas

Fawad Razaqzada, analis dari City Index dan FOREX.com, mengungkapkan bahwa situasi di Timur Tengah kembali memburuk dan mengubah proyeksi pasar. “Meningkatnya risiko lonjakan tajam harga minyak dapat mengakibatkan dolar dan imbal hasil obligasi lebih tinggi, yang pada akhirnya menekan emas,” ujarnya. Hal ini menjelaskan mengapa emas sulit untuk meroket meskipun situasi dunia sedang penuh ketidakpastian.