Apalagi, gencatan senjata antara AS dan Iran kini berada di ujung tanduk. Insiden kapal kargo di jalur strategis Selat Hormuz membuat pelaku pasar ragu akan adanya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Ketidakpastian distribusi energi global ini justru lebih banyak menguntungkan mata uang dolar ketimbang emas.
Nasib Logam Lain: Perak dan Platinum Ikut Merosot
Ternyata bukan cuma emas yang sedang menderita. “Saudara-saudaranya” di pasar logam mulia juga mengalami nasib serupa. Tekanan dari penguatan dolar AS membuat perak, platinum, hingga paladium ikut loyo. Berikut rincian harga logam lainnya:
- Perak Spot: Merosot 1,3 persen ke level USD79,76 per ons.
- Platinum: Menyusut 1,4 persen ke posisi USD2.073,28.
- Paladium: Turun tipis 0,2 persen menjadi USD1.556 per ons.
Kondisi ini membuktikan bahwa sentimen pasar saat ini benar-benar didominasi oleh pergerakan dolar dan kebijakan moneter Amerika Serikat, bukan sekadar ketakutan akan perang semata.
Gagal Tembus Level Psikologis, Emas Masih Terancam?
Secara teknikal, pergerakan emas masih jauh dari kata aman. Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyoroti bahwa kontrak emas berjangka masih kesulitan menembus angka keramat atau level resistance di USD5.000 per ons. Level ini sangat krusial; jika emas tidak mampu melewati batas tersebut, tekanan jual diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Kesimpulannya, emas kini sedang menghadapi “badai sempurna”. Di satu sisi ada ketegangan militer, namun di sisi lain kekuatan dolar dan tingginya suku bunga global menjadi penghalang besar bagi emas untuk bersinar kembali. Bagi para trader, memantau rilis data ekonomi AS dan perkembangan di Selat Hormuz menjadi kunci utama sebelum memutuskan untuk masuk ke pasar logam mulia saat ini. (*)