finnews.id – Pasar keuangan global mendadak guncang pada perdagangan Senin pagi. Harga emas yang selama ini menjadi primadona perlindungan aset justru terjun bebas lebih dari 1 persen. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang begitu agresif menjadi biang kerok utama yang menumbangkan kilau sang logam mulia di tengah memanasnya suhu geopolitik dunia.
Berdasarkan data terbaru pada Senin (20/4), harga emas spot merosot tajam hingga 1,4 persen ke level USD 4.762,09 per ons pada pukul 07.55 WIB. Angka ini merupakan posisi terendah sejak pertengahan April ini. Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Juni bahkan mencatatkan koreksi lebih dalam, yakni anjlok 2 persen ke angka USD 4.781,90 per ons. Penurunan drastis ini memaksa para investor untuk berhitung ulang mengenai strategi portofolio mereka pekan ini.
Dolar AS Mengamuk, Emas Jadi Korban Utama
Mengapa emas justru rontok saat dunia sedang tidak baik-baik saja? Jawabannya ada pada keperkasaan dolar AS. Greenback yang terus menguat membuat harga emas menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Alhasil, minat beli terhadap komoditas yang dihargai dalam dolar ini pun menyusut seketika.
Kondisi ini diperparah oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk telah mengganggu jalur logistik dan pelayaran global. Ketika harga energi melambung, hantu inflasi kembali menghantui pasar global. Investor kini terjebak dalam dilema antara mencari perlindungan atau menghindari aset yang harganya sudah terlalu tinggi.
Konflik Iran-AS Memanas, Jalur Pelayaran Lumpuh
Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat menyita sebuah kapal kargo milik Iran yang dituduh mencoba menerobos blokade. Teheran tidak tinggal diam dan mengancam akan melakukan aksi balasan yang setimpal. Situasi ini membuat aktivitas pelayaran di wilayah Teluk nyaris terhenti total, yang secara otomatis memicu ketidakstabilan di pasar saham dan komoditas.
Banyak pihak khawatir gencatan senjata yang baru saja berjalan akan segera berakhir. Iran bahkan telah memberikan sinyal tegas tidak akan mengikuti putaran kedua perundingan yang diharapkan Washington bisa dimulai sebelum Selasa besok. Ketidakpastian diplomatik ini menjadi bahan bakar utama bagi volatilitas pasar yang sangat tinggi saat ini.
Sinyal The Fed: Inflasi Jangka Pendek Mengintai
Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, memberikan pandangan yang cukup krusial terkait dampak konflik ini. Menurutnya, perseteruan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi besar mendorong angka inflasi dalam jangka pendek. Kenaikan harga barang dan jasa akibat terganggunya rantai pasok menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi pasar.
Namun, Waller juga memberikan sedikit angin segar. Jika konflik ini bisa diredam dengan cepat, peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada akhir tahun ini tetap terbuka lebar. Pernyataan ini menjadi pegangan bagi para pelaku pasar untuk tetap memantau perkembangan di Timur Tengah setiap jamnya.
Permintaan Fisik di India Lesu, Logam Lain Ikut Merosot
Kabar kurang sedap juga datang dari permintaan fisik emas di Asia. Di India, yang merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia, permintaan selama festival pembelian utama justru dilaporkan melemah. Rekor harga yang terlalu tinggi membuat masyarakat enggan membeli perhiasan, meski ada sedikit pergerakan pada sisi investasi emas batangan.
Sentimen negatif ini ternyata tidak hanya menyerang emas. Logam mulia lainnya ikut terkapar dalam aksi jual massal ini. Perak spot terpangkas 1,7 persen menjadi USD 79,42 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium masing-masing kompak melemah 0,8 persen. Tekanan luas di pasar komoditas logam ini menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking) secara masif di tengah ketidakpastian global.
Meskipun ada kenaikan kepemilikan sebesar 0,1 persen pada SPDR Gold Trust—ETF emas terbesar di dunia—menjadi 959,69 metrik ton, angka ini dianggap belum cukup kuat untuk menahan laju penurunan harga. Investor institusional terlihat masih sangat berhati-hati dalam menempatkan dana besar di tengah badai volatilitas saat ini. (*)