Namun, Waller juga memberikan sedikit angin segar. Jika konflik ini bisa diredam dengan cepat, peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada akhir tahun ini tetap terbuka lebar. Pernyataan ini menjadi pegangan bagi para pelaku pasar untuk tetap memantau perkembangan di Timur Tengah setiap jamnya.

Permintaan Fisik di India Lesu, Logam Lain Ikut Merosot

Kabar kurang sedap juga datang dari permintaan fisik emas di Asia. Di India, yang merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia, permintaan selama festival pembelian utama justru dilaporkan melemah. Rekor harga yang terlalu tinggi membuat masyarakat enggan membeli perhiasan, meski ada sedikit pergerakan pada sisi investasi emas batangan.

Sentimen negatif ini ternyata tidak hanya menyerang emas. Logam mulia lainnya ikut terkapar dalam aksi jual massal ini. Perak spot terpangkas 1,7 persen menjadi USD 79,42 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium masing-masing kompak melemah 0,8 persen. Tekanan luas di pasar komoditas logam ini menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking) secara masif di tengah ketidakpastian global.

Meskipun ada kenaikan kepemilikan sebesar 0,1 persen pada SPDR Gold Trust—ETF emas terbesar di dunia—menjadi 959,69 metrik ton, angka ini dianggap belum cukup kuat untuk menahan laju penurunan harga. Investor institusional terlihat masih sangat berhati-hati dalam menempatkan dana besar di tengah badai volatilitas saat ini. (*)