Home Market Selat Hormuz Ditutup Lagi, Minyak To The Moon & Nasib IHSG di Ujung Tanduk?
Market

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Minyak To The Moon & Nasib IHSG di Ujung Tanduk?

Bagikan
Selat Hormuz ditutup, harga minyak mentah melonjak 6%! Cek dampak krisis Iran-AS terhadap IHSG, proyeksi inflasi IMF, dan daftar saham pilihan hari ini.
Ilustrasi
Bagikan

finnews.id – Dunia investasi mendadak mencekam! Harapan pasar untuk melihat akhir pekan yang tenang sirna seketika setelah muncul kabar “Chaotic Weekend” dari Timur Tengah. Iran secara mengejutkan kembali menutup Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia, sebagai respons atas blokade Amerika Serikat (AS) dan serangan Israel ke Lebanon. Padahal, baru saja investor bernapas lega akhir pekan lalu saat pasar saham menguat dan harga energi sempat melandai.

Kini, peta kekuatan ekonomi global berbalik 180 derajat. S&P 500 Futures langsung ambruk 0,8 persen pagi ini, menghapus euforia lonjakan 1,2 persen yang sempat mencetak rekor tertinggi pekan lalu. Sementara itu, bursa Asia terpaksa dibuka dengan penguatan yang sangat terbatas, dibayangi ketakutan akan perang yang meluas. Jika Anda punya aset di pasar modal, hari ini adalah waktu yang tepat untuk memasang mata lebih lebar!

Minyak Dunia Meledak! Blokade Kapal Bikin Suasana Makin Panas

Jangan kaget kalau harga bahan bakar bakal makin mahal dalam waktu dekat. Harga minyak jenis Brent dan WTI langsung terbang masing-masing sekitar 6,8 persen dan 5,6 persen. Pemicunya? Militer Amerika Serikat menahan satu kapal berbendera Iran. Aksi balas membalas ini membuat Selat Hormuz lumpuh total setelah adanya insiden tembakan yang mengenai kapal berbendera India.

Kondisi di lapangan saat ini benar-benar kacau. Mayoritas kapal tanker memilih putar balik dan enggan melintas karena risiko keamanan yang sangat tinggi. Meski Wakil Presiden AS, JD Vance, berencana mengunjungi Pakistan besok Selasa (22/04/2026) untuk perundingan damai, pihak Iran sendiri belum memberikan konfirmasi akan hadir. Ketidakpastian ini sukses bikin investor global “senam jantung” berjamaah!

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global, Inflasi Siap Meroket

Kabar buruk tidak berhenti di situ. Dana Moneter Internasional (IMF) resmi merevisi turun outlook pertumbuhan ekonomi global dari 3,3 persen menjadi 3,1 persen untuk laporan April 2026. Sebaliknya, IMF justru menaikkan proyeksi inflasi dunia menjadi 4,4 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 4,1 persen.

Penyebabnya sudah jelas: lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai. Bagi para pembaca, ini adalah sinyal kuat bahwa daya beli mungkin akan tertekan dan biaya hidup berpotensi naik signifikan di kuartal mendatang.

Nasib IHSG: Tertekan 12 Persen, Saatnya Serok atau Kabur?

Lalu, bagaimana dengan pasar saham Indonesia? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sedang tidak baik-baik saja dengan koreksi 12 persen sejak awal tahun (YTD). Performa kita kalah jauh dibanding bursa China, India, bahkan sesama negara ASEAN. Ada dua hantu yang bikin investor asing kabur dari Jakarta:

  • Ketakutan akan downgrade status MSCI Indonesia menjadi Frontier Market.
  • Ancaman pembengkakan defisit fiskal karena beban subsidi BBM yang meroket akibat harga minyak dunia yang “kebakaran”.

Namun, jangan panik dulu! Analis menilai risiko penurunan peringkat MSCI sangat minim setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbaiki transparansi kepemilikan saham. Pemerintah juga berkomitmen menjaga defisit di bawah 3 persen demi mempertahankan status investment grade.

Curi Start! Daftar Saham Pilihan untuk Rebound Kuartal I

Di tengah badai, selalu ada peluang. Rilis kinerja keuangan kuartal pertama (1Q26) diprediksi bakal melampaui ekspektasi. Emiten dalam negeri diperkirakan mencatat pertumbuhan laba bersih yang solid hingga 10 persen di tahun 2026, lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia lainnya. Berikut adalah sektor dan saham yang patut masuk watchlist Anda:

  • Sektor Perbankan: BMRI, BBNI, BRIS, dan BBTN menjadi pilihan utama karena fundamental yang kokoh.
  • Sektor Logam & Tambang: Manfaatkan kenaikan harga komoditas dengan memantau ANTM, MBMA, TINS, dan AADI di sektor batu bara.
  • Sektor Konsumsi: MAPI dan GOTO tetap menarik meski ada tantangan daya beli.

Untuk saham consumer staples, perhatikan saham MYOR yang diproyeksi mengalami perbaikan margin laba. Sementara itu, SIDO mungkin akan sedikit tertahan karena masalah stok di distribusi. Valuasi sektor ini sekarang sangat murah, diperdagangkan di level 10,8x P/E, menjadikannya diskon yang sulit dilewatkan bagi investor jangka panjang.

Pantau terus agenda korporasi minggu ini, termasuk pembagian dividen BBRI hari ini dan RUPS ASII serta TLKM dalam beberapa hari ke depan. Jangan sampai ketinggalan momentum di tengah hiruk-pikuk ekonomi global! (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga Pertamina Dex dan Turbo Turun Hari Ini? Harga Pertamax Masih Dievaluasi Pertamina

finnews.id – Harga BBM terbaru hari ini, Senin (20 April 2026), masih belum...

Pasar global siaga! Data penjualan ritel AS & PMI siap guncang market pekan ini.
Market

Alamak! Data Ritel AS & Konflik Hormuz Siap Guncang Pasar, Investor Wajib Siaga Pekan Ini

finnews.id – Pasar keuangan global sedang berada di titik didih! Memasuki pekan...

Pangan
Market

Harga Pangan Merangkak Naik, Terutama Beras dan Minyak Goreng, Ini Rinciannya

finnews.id – Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini mulai memberikan dampak serius...

Harga minyak dunia melonjak 7% akibat penutupan Selat Hormuz dan konflik AS-Iran. Brent tembus USD96.
Market

Gawat! Selat Hormuz Ditutup Lagi, Harga Minyak Dunia Langsung Melejit 7 Persen!

finnews.id – Dunia kembali gempar! Kamu harus bersiap menghadapi potensi lonjakan biaya...