Home Ekonomi Komoditas Gawat! Ambisi RI Jadi Raja Baterai EV Terancam Ambyar, Ternyata 83% Nikel Cuma Jadi Sendok Garpu?
Komoditas

Gawat! Ambisi RI Jadi Raja Baterai EV Terancam Ambyar, Ternyata 83% Nikel Cuma Jadi Sendok Garpu?

Bagikan
Ambisi Indonesia jadi pusat baterai EV terancam! 83% nikel masih lari ke stainless steel dan terjerat emisi PLTU batu bara.
Ilustrasi - Pertambangan Nikel
Bagikan

finnews.id – Sobat energi, ada kabar yang cukup menampar wajah ambisi hilirisasi kita! Selama ini kita bangga dengan narasi Indonesia sebagai calon penguasa rantai pasok kendaraan listrik (EV) dunia karena cadangan nikel kita yang melimpah. Namun, laporan terbaru justru mengungkap fakta pahit yang bisa bikin mimpi itu layu sebelum berkembang. Ternyata, mayoritas harta karun nikel kita bukan lari ke baterai mobil canggih, melainkan masih terjebak di industri “jadul” baja tahan karat alias stainless steel!

Data Mengejutkan CREA: Cuma 17% Nikel Masuk Rantai Pasok EV

Laporan dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang rilis Kamis (16/4/2026) sukses bikin geger pelaku pasar. Data mereka menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sekitar 83% output nikel nasional justru habis terserap oleh industri stainless steel. Mirisnya, hanya 17% saja yang benar-benar masuk ke jalur produksi baterai kendaraan listrik. Ini adalah peringatan keras bahwa struktur hilirisasi kita masih sangat timpang.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa Indonesia belum benar-benar siap menjadi pusat global baterai EV. Narasi “Green Nickel” yang selama ini kita dengungkan pun mulai dipertanyakan. Jika kita ingin naik kelas, Analis CREA, Syahdiva Moezbar, menegaskan bahwa Indonesia wajib mempercepat teknologi pemurnian tingkat tinggi seperti High-Pressure Acid Leaching (HPAL). Tanpa HPAL, nikel kita hanya akan berakhir jadi komponen konstruksi atau peralatan dapur, bukan jantung dari mobil listrik masa depan.

Risiko ‘Carbon Lock-In’: Label Green Nickel Terancam Gugur

Masalahnya tidak berhenti di serapan industri saja. CREA juga menyoroti ketergantungan smelter nikel kita terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Bara (PLTU) captive atau off-grid. Saat ini, industri nikel Indonesia terhubung dengan kapasitas PLTU mandiri hingga 31 gigawatt! Kondisi ini menciptakan risiko besar yang disebut sebagai “carbon lock-in”.

Fasilitas industri baru kita seolah-olah terkunci dengan energi kotor batu bara dan tidak dirancang untuk beralih ke energi terbarukan atau jaringan listrik nasional. Katherine Hasan, analis dari CREA, memperingatkan bahwa daya saing jangka panjang Indonesia di pasar global akan hancur jika kita tidak segera menghentikan ketergantungan pada aset beremisi tinggi. Tanpa transisi ke energi hijau yang nyata, produk nikel kita bakal ditolak oleh pasar global yang semakin peduli lingkungan.

Ancaman Baterai LFP: Nikel Indonesia Mulai Ditinggalkan?

Satu hal yang bikin “fomo” sekaligus ngeri adalah pergeseran teknologi baterai di pasar global, terutama di China. Saat ini, baterai tanpa nikel berjenis Lithium Iron Phosphate (LFP) mulai merajai jalanan. Di China, pangsa pasar LFP sudah menembus angka 80% karena harganya jauh lebih murah dan masa pakainya lebih panjang.

Artinya apa buat kita? Banyak produsen otomotif kini tidak lagi bergantung pada nikel. Bahkan, sebagian besar nikel Indonesia yang diekspor sekarang masih berakhir pada komponen kendaraan berbahan bakar fosil (ICE) lewat jalur stainless steel. Jika tren LFP ini terus meluas ke pasar global dan Indonesia, permintaan nikel untuk EV bisa merosot tajam. Kita terancam punya stok melimpah tapi tidak ada pembelinya di masa depan!

Cadangan Bijih Menipis, Biaya Produksi Bakal Meroket

CREA juga mengingatkan bahwa ekspansi gila-gilaan industri nikel saat ini mempercepat penurunan cadangan bijih nikel berkadar tinggi, khususnya jenis saprolit. Saat kualitas bijih menurun, proses pengolahan akan membutuhkan energi yang jauh lebih besar. Ujung-ujungnya, biaya produksi akan membengkak dan emisi karbon yang dihasilkan justru semakin parah. Ini adalah lingkaran setan yang bisa menghancurkan efisiensi industri nikel nasional. (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Harga minyak Brent melesat 4,7% dekati USD100! Pasar ragukan perdamaian AS-Iran saat Selat Hormuz masih terblokade.
Komoditas

Pasar Minyak Berguncang! Harga Brent Hampir Tembus USD100, Harapan Damai AS-Iran Ternyata Cuma Isapan Jempol?

finnews.id – Sobat investor, bersiaplah menghadapi guncangan di pompa bensin dan sektor...