finnews.id – Sobat investor, bersiaplah menghadapi guncangan di pompa bensin dan sektor logistik! Harapan akan perdamaian di Timur Tengah yang sempat menenangkan pasar tampaknya mulai menguap. Harga minyak dunia baru saja meledak pada perdagangan Kamis waktu setempat karena pelaku pasar mulai meragukan efektivitas perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika Anda mengira krisis energi akan segera usai, data terbaru ini justru menunjukkan skenario yang jauh lebih mencekam bagi ekonomi global tahun 2026 ini.
Minyak Brent Melesat 4,7%, WTI Ikut Loncat Tinggi
Pasar minyak internasional benar-benar membara. Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi kiblat harga dunia, melonjak tajam USD4,46 atau sekitar 4,7 persen hingga bertengger di level USD99,39 per barel. Tinggal selangkah lagi harga minyak akan menembus level psikologis USD100 yang sangat ditakuti. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga melompat 3,7 persen ke posisi USD94,69 per barel.
Lonjakan harga minyak mentah ini mencerminkan skeptisisme akut dari para pemain besar di pasar energi. Meskipun Presiden Donald Trump berulang kali mengklaim bahwa kesepakatan sudah dekat, pasar sepertinya tidak lagi mempedulikan retorika tersebut. Setiap perkembangan positif selalu tertutup oleh ketidakpastian baru, membuat premi risiko geopolitik kembali membengkak di layar monitor para trader.
Selat Hormuz Masih Lumpuh: Urat Nadi Energi Dunia Tercekik
Mengapa pasar begitu panik? Jawabannya ada di Selat Hormuz. Jalur strategis ini merupakan jalur bagi 20 persen aliran minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menyebabkan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Setiap hari Selat Hormuz tertutup, pasokan global semakin menipis dan cadangan energi negara-negara konsumen terus terkuras.
Analis dari ING memperkirakan ada sekitar 13 juta barel minyak per hari yang terhenti akibat blokade ini. Kondisi ini mulai memberikan tekanan luar biasa pada cadangan bahan bakar jet di kawasan Asia dan Afrika. Kita sedang melihat proses pengetatan pasar yang sangat cepat, di mana permintaan tetap tinggi sementara arus pelayaran masih jauh di bawah normal meskipun ada isu gencatan senjata sementara.
Data Persediaan AS Turun Tajam, Ekspor Malah Digas
Kondisi pasar semakin panas setelah data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah sebanyak 913 ribu barel pekan lalu. Padahal, para analis sebelumnya memprediksi akan ada kenaikan stok. Mengapa stok di AS justru turun saat krisis? Ternyata, Amerika Serikat sedang menggenjot ekspor bensin dan bahan bakar distilat secara masif ke negara-negara yang berupaya menggantikan pasokan hilang dari Timur Tengah.
Penurunan cadangan global ini menunjukkan bahwa dunia sedang “memakan” stok daruratnya. Analis dari TP ICAP, Scott Shelton, menilai bahwa meskipun tidak ada serangan militer langsung saat ini, jumlah kapal yang berani melintasi Selat Hormuz belum membaik secara signifikan. Jika arus distribusi minyak mentah ini tidak segera pulih, kita akan menghadapi kelangkaan fisik yang nyata di berbagai belahan dunia.
Sanksi Ketat Washington: Tidak Ada Lagi Keringanan untuk Iran dan Rusia
Seolah ingin menambah bensin ke dalam api, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan posisi keras Washington. Pemerintah AS tidak akan memperpanjang keringanan sanksi bagi ekspor minyak dari Iran dan Rusia. Langkah ini otomatis akan mengunci jutaan barel minyak dari pasar global, memperparah defisit pasokan yang sudah terjadi akibat konflik di Timur Tengah.
Padahal, ada kabar bahwa pejabat AS dan Iran sedang mencoba merancang pembicaraan damai di Pakistan akhir pekan ini. Iran bahkan memberi sinyal akan membuka kembali jalur pelayaran di sisi Oman jika ada jaminan konflik tidak memanas lagi. Namun, pelaku pasar tetap skeptis karena negosiator kini kabarnya hanya mengejar kesepakatan sementara, bukan perdamaian komprehensif. Rendahnya ekspektasi inilah yang membuat harga energi terus mendaki ke level yang membahayakan pertumbuhan ekonomi. (*)