finnews.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pesan tegas menjelang pembicaraan penting dengan Iran yang akan berlangsung di Pakistan. Ia menilai negosiasi tersebut tidak membutuhkan rencana alternatif, meskipun risiko kegagalan tetap ada.
Pernyataan ini muncul saat Trump berbicara kepada wartawan pada Jumat, 10 April 2026, sebelum berangkat ke Charlottesville, Virginia. Ia menekankan bahwa kondisi militer Iran saat ini sudah sangat lemah akibat tekanan yang terjadi selama konflik.
“Anda tidak perlu rencana cadangan. Militer mereka telah dikalahkan. Militer mereka telah lenyap. Kita telah melemahkan hampir semuanya. Mereka memiliki sangat sedikit rudal. Mereka memiliki kemampuan manufaktur yang sangat terbatas. Kita telah menghantam mereka dengan keras,” katanya kepada wartawan saat bersiap berangkat ke Charlottesville, Virginia.
Peluang Negosiasi Masih Terbuka
Meski optimistis, Trump tetap berhati-hati dalam menilai hasil pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung Sabtu. Ia mengakui belum dapat memastikan apakah pertemuan tersebut menjadi satu-satunya kesempatan untuk mengakhiri konflik.
“Saya tidak tahu, saya tidak bisa memberi tahu Anda. Saya harus melihat apa yang terjadi besok.”
Di sisi lain, Trump memberikan dukungan kepada Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi Amerika Serikat dalam perundingan tersebut. Ia berharap proses diplomasi berjalan lancar dan menghasilkan kesepakatan konkret.
Fokus pada Selat Hormuz dan Stabilitas Energi Global
Selain isu perdamaian, Trump menyoroti pentingnya membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia. Ia bahkan menegaskan bahwa langkah tersebut akan dilakukan tanpa bergantung pada persetujuan Iran.
“Sekarang kita akan membuka Teluk, dengan atau tanpa mereka, tetapi itu akan terbuka, atau selat, seperti yang mereka sebut. Dan saya pikir itu akan berjalan cukup cepat. Dan jika tidak, kita akan dapat menyelesaikannya dengan satu atau lain cara. Semuanya berjalan dengan baik,” katanya.
Trump juga menolak kemungkinan Iran mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi jalur strategis tersebut. Ia memastikan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Ia menambahkan bahwa sejumlah negara lain siap membantu upaya pembukaan jalur tersebut, meskipun tidak menyebutkan secara rinci pihak yang terlibat.
Target Utama: Tanpa Senjata Nuklir
Dalam pembicaraan ini, Trump menegaskan satu prioritas utama yang tidak bisa ditawar, yaitu mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia menyebut hal tersebut sebagai inti dari kesepakatan yang diharapkan.
“Tidak ada senjata nuklir, nomor satu. Saya pikir itu sudah termasuk perubahan rezim, tetapi kita tidak pernah menjadikan itu sebagai kriteria. Tidak ada senjata nuklir, itu 99% dari itu,” tambahnya.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa isu nuklir tetap menjadi fokus utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran.
Pakistan Jadi Lokasi Kunci Negosiasi Perdamaian
Pembicaraan antara Washington dan Teheran berlangsung di Islamabad sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang berhasil dicapai sebelumnya. Pakistan memainkan peran penting bersama Turki, Tiongkok, Arab Saudi, dan Mesir dalam memediasi kesepakatan tersebut.
Gencatan senjata selama dua minggu ini menghentikan sementara konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Konflik tersebut bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu eskalasi di kawasan.
Sebagai tindak lanjut, kedua negara sepakat untuk bertemu di Pakistan guna membahas perdamaian jangka panjang yang lebih stabil.
Dengan situasi yang masih dinamis, hasil dari negosiasi ini akan sangat menentukan arah konflik ke depan, sekaligus memengaruhi stabilitas geopolitik dan ekonomi global.