finnews.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran meluncurkan tiga rentetan rudal ke arah wilayah utara Israel sejak Kamis pagi, 2 April 2026. Laporan dari Channel 12 Israel mengonfirmasi bahwa sirene peringatan serangan udara meraung keras di sebagian besar wilayah utara, memaksa warga segera mencari perlindungan.
Meskipun militer Israel berusaha keras melakukan pencegatan di udara, televisi pemerintah Iran mengklaim bahwa rudal mereka berhasil menembus pertahanan dan mencapai kota pelabuhan strategis, Haifa.
Dampak Serangan Ganda Iran dan Hizbullah
Serangan kali ini terasa lebih masif karena terjadi secara serentak. Media lokal melaporkan sedikitnya empat orang mengalami luka-luka akibat operasi gabungan antara Iran dan Hizbullah yang menargetkan wilayah tengah serta utara Israel.
Salah satu rudal dilaporkan menghantam kota Bnei Brak yang terletak di sebelah timur Tel Aviv. Ledakan tersebut merusak infrastruktur vital, termasuk jaringan air setempat yang memicu kebocoran air dalam skala besar. Selain itu, puing-puing rudal juga mengakibatkan kerusakan material yang signifikan di beberapa titik:
-
Tel Aviv Raya: Puing rudal cluster jatuh di 11 lokasi berbeda.
-
Ramat Gan: Kerusakan pada bangunan dan fasilitas umum.
-
Bnei Brak: Kerusakan pipa air utama dan area pemukiman.
Channel 12 Israel mempertegas situasi ini dalam laporannya:
“Ini serangan serentak dari Iran dan Hizbullah. Puing-puing dari rudal cluster jatuh di 11 lokasi di seluruh wilayah Tel Aviv Raya.”
Menepis Klaim Donald Trump Terkait Kemampuan Iran
Serangan udara besar-besaran ini terjadi hanya berselang beberapa menit setelah pernyataan kontroversial Presiden AS, Donald Trump. Sebelumnya, Trump meremehkan kekuatan militer Teheran dengan menyebut Iran hanya memiliki sedikit peluncur rudal yang tersisa.
Trump mengklaim bahwa kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal maupun drone telah “dibatasi secara dramatis.” Ia bahkan memprediksi konflik yang bermula dari serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu akan segera berakhir dalam hitungan minggu.
Hingga saat ini, eskalasi konflik telah menelan korban jiwa lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan sebelumnya.
Ejekan Jenderal IRGC Terhadap Benjamin Netanyahu
Di sisi lain, pihak Iran justru menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, melontarkan ejekan tajam kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Melalui unggahan di media sosial X dalam bahasa Ibrani, Mousavi menyebut ketakutan warga Israel di bunker bawah tanah sebagai “hadiah” atas kebijakan pemimpin mereka. Ia menggambarkan bagaimana warga Zionis harus gemetar di tempat perlindungan yang sempit dan gelap setiap kali sirene berbunyi.
Mousavi menuliskan pesan pedas yang menyinggung kondisi psikologis warga di wilayah pendudukan:
“Sirene rudal yang berulang dan ketakutan di tempat perlindungan adalah ‘hadiah liburan’ yang telah diberikan kepada warga Israel.”
Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Eskalasi serangan ini membuktikan bahwa meskipun mendapat tekanan berat dari kekuatan Barat, Iran tetap mampu meluncurkan operasi militer yang berdampak langsung ke jantung pertahanan Israel.