finnews.id – Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengungkap bahwa ayahnya; Ayatollah Ali Khamenei, dibunuh oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel saat ia sedang tadarus Al-Qur’an. Sebagai penerus, Mojataba berjanji bahwa Iran akan mengikuti jalan yang benar dan terus melakukan yang terbaik serta menunjukkan persatuan.
“Dengan kepergianmu, hati kami semua berduka. Kau selalu mendambakan takdir seperti itu, hingga akhirnya Allah Yang Maha Kuasa mengabulkannya saat kau membaca Al-Qur’an pada pagi hari kesepuluh bulan Ramadan yang penuh berkah,” kata Mojtaba Khamenei dalam sebuah pidato, yang dikutip Redaksi dari Republic World, Senin (16/3/2026).
Ayatollah Ali Khamenei meninggal dalam serangan hari pertama AS dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari. Serangan ini kemudian dibalas oleh Iran, yang pada akhirnya memicu perang yang meluas di Timur Tengah.
“Terima kasih tulus kami sampaikan kepada para pejuang pemberani kami yang, pada saat bangsa dan tanah air tercinta kami diserang secara tidak adil oleh para pemimpin front kesombongan, telah menghalangi jalan musuh dengan pukulan-pukulan dahsyat mereka dan menghancurkan ilusi mereka untuk dapat mendominasi negara tercinta kami atau bahkan memecah belahnya,” lanjut Mojtaba,.
Hal ini ia sampaikan dengan bangga lantaran melihat bagaimana Iran berhasil melawan musuh-musuhnya, termasuk AS dan Israel.
Ikrar Mojtaba
Mojtaba mengatakan bahwa dia berada di lokasi serangan dan melihat jenazah ayahnya. Menurutnya, serangan AS dan Israel juga menewaskan istrinya, salah satu saudara perempuannya, keponakannya, dan suami dari saudara perempuannya yang lain.
“Saya mendapat kehormatan melihat jenazahnya setelah kemartirannya,” kata Mojataba tentang ayahnya.
“Apa yang saya lihat adalah gunung keteguhan hati, dan saya diberitahu bahwa kepalan tangannya yang utuh telah terkepal,” lanjutnya.
Mojtaba meyakinkan rakyatnya bahwa Iran akan membalas dendam atas semua orang yang tewas dalam serangan tersebut.
“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menahan diri untuk membalas darah para martir Anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terbatas pada kemartiran pemimpin besar revolusi; melainkan, setiap anggota bangsa yang menjadi martir oleh musuh merupakan kasus terpisah dalam berkas pembalasan,” katanya.