Home Ekonomi BPOM RI Ungkap Produk Pangan Ilegal Jelang Nataru senilai Rp 40 Miliar
Ekonomi

BPOM RI Ungkap Produk Pangan Ilegal Jelang Nataru senilai Rp 40 Miliar

Produk pangan ilegal

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Produk pangan ilegal menurut BPOM RI adalah produk makanan atau minuman yang tidak memenuhi ketentuan peredaran pangan sebagaimana diatur Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Produk semacam ini dilarang diedarkan karena berisiko terhadap kesehatan masyarakat.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menemukan sederet produk pangan ilegal dalam hasil intensifikasi pengawasan bersama unit pelaksana teknis (UPT) BPOM seluruh Indonesia, jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Produk pangan ilegal yang ditemukan berupa produk tanpa nomor izin edar, kedaluwarsa, dan kondisi rusak.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengungkapkan berdasarkan hasil intensifikasi yang dilakukan sejak 28 November 2025 hingga saat ini, ditemukan 126.136 pcs produk ilegal dengan nilai ekonomi Rp 42,16 miliar.

“Nilai ekonomi temuan pangan tidak memenuhi ketentuan pada pemeriksaan secara online (di sarana) sebesar Rp 1,29 miliar, dengan rincian pangan tidak memiliki izin edar Rp 1 miliar, pangan kedaluwarsa Rp 224 juta, dan pangan rusak Rp 29 juta,” jelas Taruna dalam konferensi pers di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Kamis (18 Desember 2025).

Sementara itu, nilai ekonomi produk yang ditindak melalui patroli siber atau secara online mencapai Rp 80,64 miliar. Angka tersebut didapatkan kurang dari durasi sebulan setelah intensifikasi pengawasan dilakukan. Rencananya pengawasan intensif akan dilakukan sampai 31 Desember 2025.

Berikut ini deretan wilayah dengan temuan pelanggaran paling banyak selama intensifikasi pengawasan produk pangan oleh UPT setempat jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

1. Produk Tanpa Nomor Izin Edar Terbanyak

  • Tarakan 15.010 pcs (16,9 persen)
  • Jakarta 10.481 pcs (11,3 persen)
  • Pekanbaru 5.682 pcs (6,1 persen)
  • Dumai 681 pcs (0,7 persen)
  • Tasikmalaya 676 pcs (0,7 persen)

2. Produk Pangan Kedaluwarsa

  • Kupang 6.508 pcs (20,3 persen)
  • Sumba Timur 5.086 pcs (15,9 persen)
  • Ambon 4.025 pcs (12,6 persen)
  • Baubau 1.405 pcs (4,4 persen)
  • Tanimbar 1.401 pcs (4,4 persen)

3. Produk Rusak

  • Ambon 116 pcs (8,8 persen)
  • Sofifi 76 pcs (5,8 persen)
  • Balikpapan 75 pcs (5,7 persen)
  • Mamuju 61 pcs (6,1 persen)
  • Surabaya 56 pcs (4,3 persen)

“Temuan yang tidak memiliki isi impor paling banyak berasal dari negeri Malaysia, Korea, India, dan Cina yang ditemukan di wilayah perbatasan pintu masuk produk impor dan toko oleh-oleh,” ungkap Taruna.

Bagikan
Artikel Terkait
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Ekonomi

Lampu Hijau Ekonomi! Sektor Manufaktur RI Ngamuk di Awal 2026, Siap-Siap Kebanjiran Pesanan?

finnews.id – Kabar gembira buat kamu yang sedang memantau ekonomi nasional! Sektor...

Bank Indonesia catat kinerja dunia usaha Triwulan I 2026 tetap tangguh! SBT tembus 10,11%, sektor pertanian & tambang siap melesat di triwulan depan.
Ekonomi

Jangan Sampai Ketinggalan! Dunia Usaha RI 2026 Masih On Track, Sektor-Sektor Ini Bakal Cuan Gede?

finnews.id – Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan tajinya di awal tahun ini! Bank...

Ekonomi

Katalog Promo Superindo Hari Ini 17 April 2026: Diskon Bahan Segar, Pas untuk Stok Dapur

finnews.id – Jaringan swalayan Superindo kembali memanjakan para pelanggan setianya dengan menggelar...

Ekonomi

Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran

finnews.id – Industri perhotelan nasional tengah menghadapi tekanan serius. Indonesian Hotel General Manager...