Terakhir, sebuah resort berbintang tujuh di Laut Merah, Arab Saudi, juga sepenuhnya pakai produk Saniharto. Hotel mewah itu disebut Shebarah Resort, di sebuah pulau antara Jeddah dan Neom. Lihat desain resort itu. Unit-unitnya terpisah semua di atas laut Merah. Pasti hanya orang super kaya yang bermalam di sana –konon tarif satu malamnya di atas Rp 50 juta.
Kini Saniharto sudah mulai dipimpin generasi kedua. Si kakak, Harsono, 75 tahun, masih aktif ngantor. Masih sehat. Pun si adik, Winarto, jalannya masih cepat. Tapi direktur utama Saniharto kini sudah dipegang putri Harsono: Merysia Enggalhardjo. Muda, cantik, lulusan Purdue University, Amerika, satu kampus dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Merysia tidak akan mengubah merek Saniharto menjadi yang berbau Barat. Kini Saniharto sudah menjadi merek yang ternama di negara-negara maju. Pabriknya tetap saja sibuk –bahkan lebih sibuk dari yang saya lihat tiga tahun lalu. Saniharto sama sekali tidak terganggu oleh gejolak dolar. Penghasilannya dolar. Kalau dirupiahkan hitung sendiri kenaikannya.
Tapi Harsono dan Winarto tetap ingat: kepercayaan pertama yang mereka terima dari hotel bintang lima adalah dari Hotel Mulia Senayan, Jakarta.
Itulah hotel yang sangat bersejarah. Pegang rekor: membangun hotel 40 lantai, 1000 kamar, hanya delapan bulan, dengan kualitas yang tetap istimewa –dan Saniharto menjadi bagian dari sejarah itu. (Dahlan Iskan)