finnews.id – Bulan Suro selalu menjadi periode yang menarik perhatian masyarakat Jawa. Setiap kali bulan pertama dalam kalender Jawa ini tiba, berbagai tradisi dan kepercayaan kembali menjadi perbincangan. Salah satu yang paling sering muncul adalah pantangan pindah rumah selama bulan Suro.
Meski zaman terus berkembang dan pola pikir masyarakat semakin modern, kepercayaan mengenai larangan pindah rumah di bulan Suro masih bertahan hingga sekarang. Bahkan, tidak sedikit orang yang sengaja menunda proses pindahan demi menghindari hal-hal yang dianggap kurang baik.
Lalu, mengapa pindah rumah saat bulan Suro dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari?
Bulan Suro Dianggap Sebagai Waktu yang Sakral
Dalam tradisi Jawa, bulan Suro memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Bulan ini bertepatan dengan Muharram dalam kalender Islam dan dikenal sebagai periode yang sarat makna spiritual.
Masyarakat Jawa sejak lama memandang bulan Suro sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperbanyak ibadah. Karena alasan tersebut, banyak orang memilih menjalani aktivitas dengan lebih tenang dan penuh kehati-hatian.
Alasan Pindah Rumah di Bulan Suro Dianggap Tidak Dianjurkan
Menurut Primbon Jawa, aktivitas pindah rumah selama bulan Suro dipercaya dapat mengganggu kesakralan bulan tersebut. Pindahan dianggap sebagai aktivitas duniawi yang kurang sejalan dengan suasana spiritual yang melekat pada bulan Suro.
Selain itu, sebagian masyarakat meyakini bahwa perpindahan tempat tinggal pada periode ini dapat memicu datangnya berbagai hal yang tidak diinginkan. Mulai dari kesialan, hambatan dalam kehidupan, hingga gangguan yang berkaitan dengan hal-hal gaib.
Keyakinan tersebut membuat banyak keluarga memilih menunda rencana pindahan sampai bulan Suro berakhir. Mereka berharap langkah tersebut dapat menghindarkan keluarga dari energi negatif yang dipercaya muncul selama masa tersebut.
Kepercayaan yang Masih Bertahan
Bagi sebagian kalangan, larangan pindah rumah saat bulan Suro mungkin terdengar sulit diterima secara logika. Namun, bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi Jawa, pantangan ini bukan sekadar mitos biasa.